Tuesday, June 04, 2013

Kenapa?

Akhir-akhir ini gue lagi pundung. Mengapa? Yah, apalagi lah alasannya kalau bukan iri hehe. Gue baru ngeh, kemarin pas gue naik gunung, rasanya jarang ada teman gue yang lagi naik juga. nah sekarang, giliran gue lagi nggak bisa ke mana-mana akibat suatu dan lain hal, kenapa tetiba semua orang naik gunung? :( Ada yang ke Pangrango lah, ke Papandayan lah, ke Cikuray lah, ke Merapi lah. Belum lagi yang punya rencana daki ke Semeru, ke Rinjani. Belum lagi orang-orang yang setahu gue dulu nggak naik gunung, sekarang udah pada mulai naik gunung. Yaudah, semua aja sana pada naik gunung! *ala pemeran antagonis* *pundung*
Tapi… Coba kenapa ya seorang Nunu kok kepikiran buat naik gunung? Gue yakin hampir semua pendaki pasti pernah merasakan saat-saat ditanya, “Lo ngapain sih naik gunung? Capek-capek naik terus turun lagi.” Kalau jaman dulu sih gue diajarinnya, kalau ada yang nanya begitu, jawab aja, “Lo coba aja naik gunung, pasti bakal tahu jawabannya,” atau kalau udah males banget ditanya begitu mulu, bilang aja  “Ya karena gunungnya ada di situ.”
Jadi, daripada pundung, gue mau mencurahkan pemikiran dan perasaan gue mengenai naik gunung deh, terutama alasan gue naik gunung. Musabab pertama gue kepikiran buat naik gunung dahulu sekali itu akibat melihat foto Bapak gue di puncak gunung Gede tahun 1995, gue liatnya nggak pas tahun ’95-nya, tapi pas udah SMP. Musabab kedua yaitu gegara melihat dua gunung yang melingkupi Bogor, dulu sih belum tahu nama gunungnya apa. Akibat dua hal inilah gue memunculkan rasa ingin tahu akan ‘kerjaan’ yang namanya naik gunung / munggah / daki gunung / apapun istilah yang dipakai orang-orang. Akibat dua hal ini pula gue sok-sokan ikut ekskul penggiat alam.
Nah itu jaman dulu, waktu masih polos, masih lugu, masih muda, masih hedonis, dan lebih aimless. Sekarang, naik gunung buat gue punya banyak makna.
Beberapa pendakian terakhir ini, terutama yang lumayan jauh-jauh, gue somehow merasa semacam terpanggil untuk mendaki, semacam panggilan hati, di luar memang ingin juga. Gue merasa inilah waktu yang memang ‘disediakan’ buat gue untuk mendaki, setelah sempat vakum naik gunung. Istilah lainnya mungkin, saat itu lah memang ‘jodoh’nya gue, rejekinya gue. Nah, entah kenapa merasa terpanggil aja gitu, merasa disuruh ke sana, jadi nggak ada ceritanya gue naik gunung karena ingin dianggap keren, ingin kaya orang lain, ingin menaklukan alam, ingin menunjukkan kalau gue begini, kalau gue begitu. NOPE.
Mendaki, buat gue dan menurut gue, juga merupakan salah satu cara gue bersyukur sama Allah. Bersyukur karena diberikan badan sehat yang sempurna, bersyukur karena diberikan alam yang luar biasa banget indahnya, bersyukur diberikan kesempatan dan waktu untuk melihat alam Indonesia yang gue nggak pernah tahu sebelum gue kenal Rinjani, bersyukur karena diberikan rejeki, dan setrilyun rasa syukur lainnya. Bener-benerMaka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?’.
Mendaki buat gue juga adalah sebuah bentuk pendidikan, langsung oleh guru alam. Alam mengajarkan kita akan keseimbangan. Alam mengajarkan kita untuk mengenalinya dan hidup berdampingan dengannya. Alam mengajarkan kita untuk selalu waspada. Alam mengajarkan kita untuk selalu bersyukur. Alam mengajarkan kita untuk selalu berjuang. Alam menyadarkan kita akan kelemahan-kelemahan kita. Alam menyadarkan kita akan kekuatan-kekuatan kita. Alam membuka pandangan kita. Masih banyak jam pelajaran lain yang akan kita dapatkan, dengan berguru pada alam, lewat kelas-kelas mendaki.
Satu lagi yang bikin gue merasa naik gunung itu pengalaman yang luar biasa; shalat di ketinggian. Gue masih suka ketinggalan shalatnya, tapi shalat di gunung itu bener-bener amazingly subhanallah banget. Melawan air dingin buat wudhu, berjalan jauh buat dapat air wudhu (dan berusaha nggak flatus sewaktu jalan balik), mengeruk debu buat tayamum, menahan angin yang selalu siap menerbangkan mukena setiap saat. Shalat di pinggir danau yang di tengah-tengahnya ada gunung yang masih aktif, shalat di tanah tertinggi Jawa, shalat di tanah miring, shalat di antara bebatuan tanpa vegetasi tersisa, shalat di tepi jurang, shalat di atas kerikil-kerikil menyakitkan. Gue nggak bisa menjelaskan rasanya seperti apa. You have to feel it by yourselves, really.
Itu di antaranya alasan-alasan kenapa gue naik gunung. Mungkin nggak semuanya juga gue, tapi hal-hal di atas inilah yang bikin gue ketagihan banget naik gunung, hampa kalau belum naik gunung, dan full-battery sepulang naik gunung.
Nah, gue berusaha adil, sesuatu itu memiliki sisi baik dan sisi buruknya, manusia juga begitu. What I can tell you about mountaineering in different perspective? Pasti ada, jelas ada. Yah, kalau menurut gue sih, kembali ke orangnya aja, seharusnya bisa diantisipasi dan jangan ter-le-na. *curhat*
Semoga secepatnya gue bisa naik gunung lagi, aamiin. *ngarep pisan* *liat dompet* *makin ngarep*
Last words, bukan wiseword, cuma membuat kalimat dari apa yang pernah gue alami.

When you feel so tired but you still have to walk and you do keep walking; you’ll get your best peak :)

4 comments:

Resty Gustianingsih said...

Yeah, so do I... very very envy... however..... :'(

nunn said...

Aaa we'll have our other peaks again darl! Dont stop believing *tsaah* :D

Medianissa Utami said...

Agree! Dan satu alasan kenapa gue main ke alam: memanusiakan diri kembali. Kelamaan di kota bisa mengikis kemanusiaan manusia. ;)

nunn said...

Yep, menemukan jalan pulang untuk kembali menjadi manusia :)

@nunnurul. Powered by Blogger.