Friday, September 16, 2016

Sekejap Semarang

Dua minggu lalu gue dan Mamah main ke Semarang, nengok sekaligus rayain ulang tahun anak bontot yang baru mulai merantau.
Berangkat hari Jumat, 2 September 2016, setengah kemaleman karena gue tertahan di kantor akibat hujan deras. Ditambah pula driver G*** yang ngerjain kami: nunggunya lama, dituruninnya jauh. Alhamdulillah sampai Stasiun Pasar Senen masih bisa leyeh-leyeh dulu. Gue agak disorientasi ngeliat Senen. Tiga tahun lalu terakhir main ke sini, udah berubah banget. Dari alur antrian sampai musolanya. Kami naik Kereta Ekonomi Tawang Jaya, berangkat cuma kelewat 5 menit dari jadwal.
Besok paginya kami sampai di Stasiun Semarang Poncol, telat setengah jam dari jadwal. Langsung nyambung naik Trans Semarang, menuju kosan adek gue di Semarang Atas. Kata Mamah dan adek gue, daerah Undip dan sekitarnya disebut Semarang Atas karena posisinya yang lebih tinggi daripada pusat kota Semarangnya, yang disebut Semarang Bawah. Jadi kalo mau ke pusat kota, bilangnya mau ke Bawah.
Alhamdulillah masih bisa nengokin si Bocil di hari ulang tahun ke 18 nya. Happy birthday Bocil *tiup balon* Setelah menyerahkan segala titipan dia dan kado-kado, gue dan Mamah balik lagi ke Bawah, niatnya mau beli beberapa keperluan buat adek gue, tapi jadinya malah jalan ke Lawang Sewu haha.


Mamak lebih gaul daripada anaknya:p

Sepulang dari Lawang Sewu, kami cek in hotel dulu, hotelnya deket kosan Bocil. Habis cek in dan gue juga Mamah bersih-bersih, kami semua, termasuk Bocil yang nganterin ransel gue ke hotel, tidur sampai asar haha.
Sebelum azan magrib, kami makan di deket hotel. Pengennya sih makan malam mewah dikit dalam rangka ulang tahun Bocil gitu kaan, tapi jauh nyarinya, angkot juga udah ngga ada. Jadi kami makan deket hotel aja haha.
Minggu pagi, rencananya sih beli oleh-oleh karena temen kantor gue nitip beliin bandeng. Gue dan Mamah jalan lagi, ke daerah Pandanaran; Bocil ada kegiatan di kampusnya.
Begitu turun di halte Pandanaran, Mamah malah pengen ke Kota Lama, lihat museum trick art, jadilah kami naik becak ke daerah Kota Lama.
Becak Ride
Mamah keasikan banget foto-foto, udah gue tarik biar cepet ke pintu keluar tapi nyangkut lagi nyangkut lagi, pengen foto di sini, di situ hahaha.


Jam 11 kami baru keluar dari museum, kereta kami jam 2 siang, dan tas kami masih di hotel; gambling keburu atau nggak beli oleh-oleh. Akhirnya kami langsung ke hotel, oleh-oleh nanti aja di stasiun.
Sampai hotel langsung solat jamak, rapiin packing, lanjut cek out. Ternyata jalanan Semarang Minggu siang macet ya. Trans Semarang kami merayap di belokan sebelum Paragon Mall (lupa gue nama jalannya hehe). Sudah belok ke jalan menuju Poncol juga masih merayap, gue bolak balik liat GoogleMap dan jam tangan, degdegan ketinggalan kereta.
Akhirnya jam 1:40 siang kami sampai di Stasiun Semarang Poncol lagi. Langsung cetak boarding pass; ragu-ragu mau nyari bandeng. Akhirnya kami langsung naik kereta aja. Nggak beli oleh-oleh sama sekali, malah cuma satu barang yang kami beli selama trip di Semarang: kacamata hitam seharga Rp 25.000 di kios-kios barang antik sekitar Kota Lama haha.
Insya Allah nanti main lagi ke Semarang, dengan formasi yang lebih lengkap :D

Nunu - akhirnya main ke Ibu Kota Jawa Tengah.

Saturday, August 27, 2016

Prosesi: Pasmalima

Gegara baca postingannya Didit di blognya dahulu, gue jadi teringat beberapa fase yang gue lewatin selama 10 tahun gue jadi bagian dari keluarga besar Pasmalima. Yap, sudah 10 tahun gue jadi bagian dari Pasmalima.
Fase pertama, CaPAL. Polos dan semangat. Mungkin itu yang bisa gue simpulkan dari masa-masa jadi calon anggota. Berbekal niat sedari SMP, ingin naik gunung, semangat selalu ikut latihan jalan terus. Meskipun udah dengar selentingan-selentingan soal pelantikan nanri kaya apa, hajar terus. Lanjut terus.
Dilantik, masuklah masa paling bahagia. PAL baru, belum ada junior. Mulai praktik naik gunung sungguhan, ditemani PAL yang lebih dulu dilantik.
Selanjutnya justru fase yang menurut gue paling berat, yaitu fase jadi pengurus. Ingeeet banget dulu sempet ngeluh, nyesel, muak, stres, jenuh. Tahun pertama jadi pengurus rasanya stres banget. Tekanan dari alumni, tekanan dari sekolah. Sebetulnya alumni itu selalu siap bantu, tapi entah mengapa, pada saat itu anggapan kami adalah bahwa mereka itu nuntut. Sekarang sih zaman sudah berubah, alumninya baik baik 😀 Tahun kedua jadi pengurus. Entah kalo yang dirasakan teman-teman yang lain, tapi tahun kedua gue jadi pengurus, gue lebih merasa menikmati. Meskipun tanggung jawabnya lebih besar karena jabatan yang lebih tinggi daripada tahun  pertama, gue bahagia sekali menjalankan segala tanggung jawab gue.
Lulus SMA jadi alumni baru. Ini fase peralihan yang lumayan penting *halah*. Di fase ini seleksi alam paling jelas terasa. Yang memang sudah pengen hilang dari Pasma, udah entah ke mana. Tapi, yang masih bertahan pun banyak. Alhamdulillah, gue memilih untuk bertahan. Gue selalu berpikir, hal-hal yang bikin gue nyesel masuk Pasma itu ga ada apa-apanya dibandingkan dengan hal-hal yang gue terima dari Pasma
Setelah lulus SMA, lebih banyak lagi pelajaran berharga yang gue dapatkan dari Pasmalima.
Fase selanjutnya, alumni setengah mateng. Alumni baru bukan, tapi pengalaman masih minim, maklum anak kuliahan. Meskipun begitu, di masa ini gue dapet kesempatan luar biasa. Mungkin ga semua teman-teman gue masih dapat kesempatan untuk bisa mendaki. Uang pas-pasan, waktu mepet, izin dari orang tua ga dapet. Tapi alhamdulillah sekali, pada masanya gue diberikan kesempatan mendaki 5 gunung langsung dalam rentang waktu 2 tahun. 
Kemudian masuk jadi alumni yang lebih dewasa. Ya seharusnya begitu, kan tadi setengah mateng, sekarang seharusnya udah mateng haha. Kalo gue sih merasa gue belum mencapai ke situ. Memang pernah berusaha dan mencoba jadi alumni yang bisa banyak memfasilitasi teman-teman di SMA, meskipun dengan kemampuan yang sebisanya (makanya gue ga pernah merasa sukses jadi seorang alumni yang grown up hehe.
Fase terakhir. Fase yang sedang gue alami sekarang *nangis tujuh hari tujuh malem*. Alumni yang sudah mulai sulit menyisakan waktunya untuk organisasi yang sudah memberikan banyak sekali pelajaran hidup. Sejujurnya, rasa tanggung jawab, rasa pengen support terus, rasa ingin selalu join kegiatan anak-anak SMA itu masih ada. Kendala paling besar waktu, klise. Ada juga pikiran untuk memberikan ruang buat teman-teman alumni yang masih punya waktu lebih (baca: belum nyampe fase terakhir ini).

Mungkin bisa aja ada fase selanjutnya, tapi fase terakhir ini gue bilang mencakup banyak sekali kalangan alumni. Karena apapun latar belakangnya, fase terakhir ini pada akhirnya akan menghampiri setiap alumni yang dulunya selalu aktif support teman-teman SMA dalam bentuk apapun.

Jadi, buat teman-teman SMA (kali aja ada yang nyasar baca blog gue), semoga semangat kalian buat Pasmalima selalu ada, selalu berikan yang terbaik buat keluarga kalian ini. Percaya deh, semua yang kalian pelajari di Pasmalima itu bisa kalian terapkan di kehidupan seterusnya. Yaaah, yang sabar aja kalo masalah Pasma itu lagi itu lagi, wayahna.

Nunu - PAL 251 angkatan XXII - pengen banget ikut Pendidikan Dasar dan Pelantikan tahun ini.

Monday, August 22, 2016

Rindu 2

Rindu nyusup lewat Javana Spa

Rindu nyanyi dalem hati sepanjang jalur Bajuri - Lapangan Gas karena inget yel-yel waktu dilantik

Rindu bau lumpur jalur Cidahu dan Cibatok

Rindu memandang luasnya Segara Anak

Rindu memandang Baru Jari yang imut tapi sangar

Nggak rindu jalur Segara Anak - Senaru

Rindu ciprat-ciprat di sungai di sebelah Pos 2 Kerinci

Nggak rindu jalur Shelter 2 - Shelter 3 Kerinci

Rindu lihat lintah merah merona sebesar belut - lihat doang ya

Rindu sunset Shelter 2 Kerinci

Rindu jalan-jalan ke Kalimati bawa wadah air

Nggak rindu debu musim kemaraunya jalur Cemoro Kandang Semeru

Rindu jalur ceruknya Kerinci, anyep-anyep lembap

Nggak rindu terjembap di jalur sebelum Sabana 1 Merbabu

Rindu lari-lari turun dari Sabana 2 sampe Gerbang Selo

Rindu lari-lari di antara pohon edelweiss yang tinggi-tinggi di Mandalawangi macam di video klip India

Rindu memandang Merapi dari Watu Tulis Merbabu

Rinduuuuu banget sosorodotan turun dari puncak Rinjani dan Semeru

Rindu duduk-duduk cantik di atas jalur lava sebelum Pos Padabalong

Rindu angetin kaki di Aiq Kalak

Rindu menyipit-nyipitkan mata, melihat Danau Gunung Tujuh dari puncak Kerinci

Rindu tengok kanan kiri, nyiriin puncak Gunung Agung dan puncak Gunung Tambora dari puncak Rinjani

Rindu dibikin nangis sama gunung-gunung kecil di sekitar puncak Mahameru

Rindu berdiri di puncak Triangulasi Merbabu, pengen nyobain berdiri di situ sewaktu cuaca cerah

Rindu lihat puncak Gunung Salak di kejauhan dari puncak Pangrango

Rindu 360' puncak Gede, dari mulai kawah, puncak Pangrango, sampe alun-alun Suryakencana

Rindu kabut di sekeliling puncak Salak 2 yang kelihatan dari Salak 1

Rindu berdoa di setiap puncak gunung, bersyukur atas puncak, berdoa atas keselamatan perjalanan, berdoa untuk para pendahulu; berdoa sendiri ataupun berdoa dengan teman-teman tim pendakian.

Nurul - miss every thing too much.

@nunnurul. Powered by Blogger.