Friday, June 23, 2023
Menjelang Hadirnya Anak TK di Rumah Kami
Friday, June 09, 2023
A Little Story for More Alhamdulillah
So, I had my second pregnancy for about 56 days. Sometimes, even when we've expected any possibilities, any twirling emotion still may occur.
Note: postingan ini mungkin sedikit panjang, karena aku ingin meyimpan ceritanya di sini.
Tanggal 3 Mei 2023, akhirnya periksa kehamilan, after two weeks knowing that I'm pregnant, setelah melewati Idul Fitri dan cuti dokter. Entah kenapa setiap pertama kali periksa hamil, aku selalu seperti mempersiapkan apa pun yang mungkin terjadi. Kemungkinan-kemungkinan apa pun. Ternyata di kehamilan kedua inilah aku mengalami apa yang bisa aku bilang ekspektasi yang tidak kuekspektasikan.
Janin dan kantung hamil menempel di luka bekas operasi SC-ku dulu saat melahirkan anak pertama. Dokter pertama yang menanganiku menggelengkan kepalanya beberapa kali sambil menatap monitor tampilan USG. Janinnya tumbuh normal dan detak jantungnya terdengar.
Alhamdulillah sekali memilih ditangani dengan beliau when we first found out about the condition. Beliau mungkin tahu apa yang akan aku hadapi dan dari ucapan beliaulah aku percaya kalau ini sudah merupakan takdir dari Allah.
Beliau kemudian memberikan rujukan untuk berkonsultasi dengan dokter subspesialis fetomaternal di rumah sakit lain; untuk memastikan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Hari itu juga kami ke rumah sakit tersebut, meskipun baru malam harinya kami bisa bertemu dengan dokter yang disarankan oleh dokter pertamaku.
Apa yang aku rasakan saat itu? Pasrah sepasrah-pasrahnya, sambil ya berdoa juga tentunya. Sedih? Belum terlalu terasa karena aku lebih memikirkan apa yang akan aku jalankan selanjutnya. Menerima. Di titik itu aku merasa aku menerima.
Aku juga sangatttt bersyukur sekali, Bapak Ahmad Mubarik dengan kalem menemani istrinya jadi aku pun tidak terbawa panik; meskipun aku yakin pikiran kami sama-sama sibuk dengan segala kemungkinan dan beliau juga pasti mikirin kerjaannya yang ditinggal sementara.
Malam harinya, diagnosis dari dokter kedua yang merupakan dokter kandungan subspesialis fetomaternal adalah Cesarean Scar Ectopic Pregnancy or CSEP. Penyebabnya menurut beliau adalah aku kurang effort untuk mengembalikan otot rahim dan segala macam otot yang seharusnya dikembalikan setelah melahirkan. Jadi muncul lah rongga di luka SC dan menempellah kantung hamilku di situ.
Aku sempat googling tentang CSEP ini, menurut beberapa link yang kubaca, kejadiannya memang meningkat seiring meningkatnya proses kelahiran secara SC. Namun, kemungkinan terjadinya CSEP ini perbandingannya 1:1800 dari kehamilan pasca SC. Jadi memang aku si satunya dari satubandingseribudelapanratus.
Dokter keduaku ini beberapa kali bilang kalau dalam kasus seperti ini, dokter akan mendahulukan keselamatan ibu. Posisi menempel yang salah tempat ini akan mengakibatkan perdarahan yang parah, kata beliau. Beliau juga menunjukkan banyaknya pembuluh darah di tempat dedek janin menempel, terlihat di layar USG. Di sini pun dipastikan janinnya normal, detak jantungnya dalam hitungan yang normal pula. Aku ingat angkanya, 114.
Rekomendasi tindakan dari beliau adalah laparotomi, yaitu bedah perut. Setelah diskusi sama Pak Ahmad, kami memutuskan untuk berganti jaminan karena rumah sakit yang kedua ini lumayan biayanya, bisa buat aku umroh kayaknya. Hari berikutnya kami kembali ke rumah sakit dengan jaminan yang lain, asuransi pemerintah. Namun, baik dokter yang pertama menanganiku (beliau praktik juga di rumah sakit ini) maupun yang kedua, sedang tidak available. Kami berganti ke dokter ketiga.
Saat konsultasi dengan dokter ketiga ini kami berusaha menjelaskan seperti yang sudah dipaparkan oleh dokter-dokter sebelumnya, tapi ada satu kali aku salah bicara. Saat menyebutkan rekomendasi tindakan dari dokter kedua, aku menyebutkan "SC" yang seharusnya laparotomi. Begitu aku mengucapkan SC, dokter ketigaku ini langsung kaget dan kemudian menceritakan pengalaman beliau membedah rahim di kondisi kehamilan masih sangat muda. Beliau bilang, "Rahim itu masih kecil sekali, seukuran telur ayam." Beliau menolak untuk menjalankan laparotomi and will go for curettage instead. Lalu aku dijadwalkan untuk tindakan tanggal 6 Mei 2023.
Keluar dari ruangan dokter, aku dan Pak Ahmad saling menatap. Lho gak jadi laparotomi. Begitu lah kurang lebih makna tatapan kami.
***
Setelah melewati persiapan operasi, tes darah dan sebagainya, hari Sabtu subuh, aku dan Pak Ahmad ke rumah sakit lagi. Sekitar jam 10 dipasang alat untuk persiapan kuret dan kami menunggu sampai sekitar jam 15.30 aku ganti kostum untuk tindakan nanti. Sewaktu menunggu sebelum masuk ruang operasi, aku terus-terusan terpikir semoga selesai dengan kuret dan aman dan segala macam pikiran (maksain) positif lainnya. Alhamdulillah ngobrol ngalor ngidul ngulon sama Pak Ahmad bikin sedikit teralihkan.
Kuret ini aku dibius umum alias pengsan alias tidak sadar. Sebelum dipingsanin, aku dzikir aja terus biar gak kepikiran soal si laparotomi. Kemudian aku masuk ke dalam video klipnya Coldplay x screensaver Windows2000. Wow bulat bulat warna warni, segitiga warna warni, kotak warna warni, kubus warna warni, balok warna warni. Lalu aku dengar aku disuruh angkat kepala. Hah, gimana caranya angkat kepala, aku lupa. Gak lama, aku merasa aku didorong di kasur terus ada yang pegangin tanganku, tangan Pak Ahmad. Sudah selesai sepertinya.
Aku ingat aku nanya banyak hal sama Pak Ahmad, tapi aku gak ingat bicara apa aja. Cuma satu yang aku ingat, "Kamu udah buka puasa belum?" Karena beliau lagi puasa Syawal. Kata Pak Ahmad, aku masuk ruang operasi sekitar 20 menit.
Jam 21.00 aku masuk ruang perawatan biasa. Lalu kami tidur. Pertama kalinya tidak tidur sama Kamara huhu. Siang tadi dia ke Gramedia dengan Ninihnya. Besok paginya jam 07.00 aku sudah boleh pulang.
***
Sepekan kemudian aku kontrol pascatindakan. Ternyata masih ada yang tertinggal, bentuknya seperti bulatan kantong rahim. Aku diminta minum obat untuk meluruhkan lalu harus kontrol lagi pekan depan.
Kontrol kedua, masih ada juga bulatan itu. Beliau membersihkan secara manual namun ternyata ada alat yang kurang. Aku diminta untuk datang ke tempat praktik beliau di sebuah apotek malam nanti.
Akhirnya setelah menunggu lama sekali karena aku diterakhirkan, dokter bilang sudah bersih. Beliau juga cerita sewaktu USG setelah proses kuret, bulatan itu tidak terlihat; baru terlihat saat aku kontrol pekan lalu.
Ada satu hal yang buat aku senyum tiap aku ingat dari kontrol kedua hari itu baik yang siang maupun yang malam. Sewaktu ke rumah sakit siang harinya, motor kami sempat mati terus menolak untuk dinyalakan selama 10 menit saat berhenti di lampu merah. Sewaktu ke tempat praktik dokter malamnya, belum jauh dari rumah, hujan turun deras sederas-derasnya sampai kami berteduh kurang lebih setengah jam. Kami seperti diberikan "penunda" untuk datang terlalu cepat ke dokter, tapi kami jadi paham itu biar kami gak terlalu lama menunggu, karena aku memang sengaja diterakhirkan khawatir agak lama di dalam ruangan dokter jadi membuat antrian panjang (walaupun awalnya aku gak ngeh aku diterakhirkan). MasyaAllah, sekecil itupun sudah Allah atur.
Jadi aku sangat yakin kehamilanku yang bermasalah kali ini pun memang sudah diatur Allah. Awalnya aku sempat takjug juga karena memang kehamilan ini sesuai timeline rencana yang aku buat setahun lalu, aku berpikir alhamdulillah ternyata Allah menyetujui rencanaku. Namun ternyata rencana Allah lebih baik lagi, aku belajar banyak sekali dari kejadian ini.
Sekian kisah Cesarean Scar Ectopic Pregnancy di kehamilan keduaku ini. Semoga kehamilan selanjutnya lancar aamiin :)
Sunday, September 04, 2022
Komparatif
Tuesday, March 09, 2021
What Did They Say?
Wednesday, September 18, 2019
Anakku adalah Anakku yang Ternyata Memang Anakku
Disclaimer: postingan ini akan bernuansa sok tua dan juga sok tau.
Mari kita mulai.
Kadang kalau lagi eling ga eling suka kepikiran pengen punya anak cukup 1 sahaja. Huahahaha.
WHY????
Bukannya gue takut hamil lagi. No. Malah pengen hamil lagi, hamil itu fase paling nikmat dari perjalanan parenting menurut gue hahaha. Bukannya takut melahirkan lagi. Engga, malah gue ingin banget bisa berikhtiar untuk bisa VBAC - vaginal birth after caserian - seandainya diberikan kepercayaan untuk hamil lagi.
Namun, tanggung jawab mendidik anaknya itu lho, yang sungguh sangat tidak main-main. Selalu percaya bahwa Ibu adalah sekolah, madrasah, guru, pertama dari seorang anak - Bapak kepala sekolah berarti ya hehehe. Setiap Ibu (dan Bapak juga pastinya) pasti ingin anaknya tumbuh jadi seseorang yang baik, berguna untuk orang lain, dll dsb dst pokoknya yg baik-baik lah. Ya ga bisa dong tiba-tiba si Anak jadi orang yang berakhlak karimah tapi tidak diajarkan dan tidak dicontohkan oleh orang tuanya. Mungkin special case ada. Tapi ya pada umumnya tetap orang tua adalah diktatnya anak dan anak fotokopiannya orang tua dengan beberapa perbedaan di beberapa halaman karena ada pengaruh lingkungan juga. Monmaap, Anda mengulang kata beberapa.
Intinya maaaaah, gue tidak bisa memastikan sifat dan sikap buruk apa yang nantinya terbentuk dan menempel di anak gue. Gue juga tidak bisa memastikan semua sifat dan sikap baik yang gue inginkan bisa ada pada anak gue. Yang jelas, gue harus dan memang tanggung jawab gue untuk memastikan bahwa sifat dan sikap baik itu lebih banyak daripada yang buruknya.
P.S. Mohon maaf judul memang tidak ada hubungannya dengan isi tulisan.
Sunday, May 26, 2019
Locomotive Baby
Tips yang paling gue inget adalah, kurang lebih seperti ini: "Jika Anda berpergian dengan menggunakan kendaraan umum, berpergianlah di jam bayi tidur sehingga ia akan lebih banyak tertidur."
Untuk perjalanan berangkat, gue bisa ambil perjalanan malam. Memang setiap ke Semarang kami pasti naik kereta Tawang Jaya yang berangkatnya malam, yaitu pukul 23.00. Masuk ke gerbong dan duduk di bangku kereta awalnya Rara sempet kebingungan. Wajar banget lah ya, biasanya cuma berdua sama ibunya di rumah, lha ini ramai sekaliii banyak orang. Setelah gendong oper-oper Bapak-Ibu-Nenek-Aki, Rara berhasil tidur pules dengan digendong Ibu dan Nenek secara bergantian. Dia tetap pulas sampai terbangun jam 5 pagi. Perjalanan ke Semarang ini kurang lebih butuh waktu sekitar 7 jam.
Nah untuk perjalanan pulang, gue pun niatnya pengen naik kereta yang jalannya malam. Kalau ga salah ada kereta Brantas yang berangkat dari Semarang sekitar pukul 21.00. Namuuun, ternyata Aki-Neneknya Rara sudah duluan beli tiket untuk Tawang Jaya yang berangkatnya pukul 13.00 dari Semarang. Gue pikir daripada berdua doang sama Bapaknya, yasudah kami ikut beli tiket yang sama dengan Aki-Neneknya. Yep, di kereta siang ini karena bukan di jam tidurnya, Rara cuma tidur sebentar-sebentar dan tidak terlalu nyenyak. Lumayan agak rewel karena sebetulnya mengantuk tapi kadang ada suara dari pengeras suara atau suara petugas dari restorasi yang keliling nawarin makanan jadi Rara sering terbangun.
Selanjutnya, mengenai itinerary. Kalau pergi sewaktu belum nikah, yaa sebelum punya bayi deh, dalam satu hari mungkin bisa mengunjungi beberapa tempat. Selain itu, durasinya juga singkat: satu malam di kereta, satu malam di hotel, besoknya langsung pulang. Kali ini karena bawa bayi, kami ga terlalu pergi ke banyak tempat, malah satu hari cuma satu lokasi saja. Kami juga menginap dua malam di Semarang. Maksudnya biar Rara bisa lebih banyak istirahat. Di hari pertama kami cuma ke Lawang Sewu, sekalian menunggu jam check in hotel. Kami pergi ke sana setelah menitipkan barang bawaan di lobby hotel. Hari kedua juga cuma ke Klenteng Sam Poo Kong di siang harinya, karena paginya Rara tidur terus hihi. Pokoknya lebih santai dan tidak terlalu banyak agenda. Bayi perlu adaptasi dengan lingkungan baru pastinya kan, kalau terus diajak jalan, istirahatnya hanya sedikit plus terlalu banyak stimulasi jadinya kelelahan akhirnya rewel.
Selanjutnya, soal mandi! Hehe. Ini gue agak menyesal pilih hotel yang kurang proper kalau untuk bawa bayi. Kalau orang dewasa sih ga masalah ya hotel sederhana juga. Hotel yang gue pilih ini ternyata ga punya wastafel besar, hanya ada wastafel kecil dan sempit. Niat gue mau mandiin Rara di wastafel sebagai ganti bak mandi pun sirna. Ga mungkin cukup anak aku yang gemas itu mandi di wastafel sempit, dan dia juga belum bisa duduk tegak - yha baru mau 5 bulan umurnya. Akhirnya dua mandi pertama, gue ikutan mandi sama Rara, jadi Rara mandi di shower sambil gue gendong. Air panas hotelnya ga keluar pula, kecewa jadinya huhu. Terus setelah satu malam di hotel gue baru tau kalau ternyata di kamarnya Aki-Nenek ada ember! Jadi dua mandi berikutnya Rara mandi di ember, dan air hangatnya baru keluar. Gue jadi mikir selanjutnya kalau mau bawa Rara nginep di hotel, ambil yang hotel yang agak bagus sekalian deh. Kasian kalau jadinya mandi ga nyaman karena airnya dingin. Oh iya Rara masih mandi air hangat, tidak terlalu hangat sih, yang penting tidak dingin hehe.
Mungkin itu saja yang bisa gue share tentang perjalanan bersama bayi lima bulan kurang 1 minggu.
Terima kasih bayi Bolangku yang jagoan karena lebih banyak antengnya daripada rewelnya. We'll go somewhere else soon!
1. Mungkin ada pertanyaan, kok naik kereta ekonomi? Ga kasian sama bayi? Kalau gue justru mikirnya ekonomi lebih leluasa. Di kereta ekonomi kan seat nya bablas tuh ya, bukan kursi 1-1, dan seat nya ada yg tiga deret. Gue beli tiket untuk 3 dewasa dan 1 bayi. Bayi ga dapet tempat duduk, tapi biar kursi 3 deret itu jadi milik kami, gue beli tiket pakai nama adek gue. Jadi seat yang 3 kami beli satu deret, lega kan? Kalau bayi pegel bisa dibaringin dulu. Kalau eksekutif kan sepengalaman gue yang lebih sering naik ekonomi, setiap gue naik eksekutif, seatnya dua dan 1-1, ga bisa baringin bayi begitu saja tanpa ada ganjelan di sekitar punggung bayi. Dan pastinya lebih murah, jadi beli 3 seat pun ga bikin rogoh-rogoh rekening banget.
![]() |
| Here's the group photo! |
Nunu - mamak yang ingin anaknya banyak belajar dari cerita perjalanan.
Hello, Anybody Here?
Jadiiiiii, tadi gue ikutan acara Buka Puasa Bersama keluarga superbuesarku, yaitu Pasmalima. Ketika gue lagi gendong-gendong anak bayi (anakku! Iyhaaa gue udah punya anak), tiba-tiba ada PAL SMA yang nyamperin. "Kak, kakak Nurul Huda kan? Aku baca blog kakak lho, yg tentang Pasmalima." Oh my, sungguh kutersipu malu. Hahaha. Really, ya memang sih namanya blog, kita ya nulis untuk semua orang, but when somebody that you don't know suddenly reported themselves reading your writings, for me it's kinda malu aku malu pada semut merah. Hahahaha.
So, well. I went re-reading some of my post. Alhamdulillah, gak malu-maluin banget kok.
Anyway, semoga dia ga baca postingan ini yah, karena gue ceritain ini kan jadinya hahaha. Dan iya, gue lupa nanya nama dia siapa hahaha. Sok artees amat gue.
So what did I miss? Banyaaak sekali.
Sekarang gue sudah menikah, sudah punya seorang anak, bayi berumur 6 bulan.
Nikah sama siapa? Ya sama mantan pacar yang ga kepikir bakal jadi pacar apalagi jadi suami itu.
Anaknya perempuan atau laki-laki, siapa namanya? Perempuan, namanya kecilnya Rara ❤ She's soooo lovely. Anaknya anteng, murah senyum, seneng ketawa. Alhamdulillah.
Mungkin kalo ada waktu luang gue akan cerita tentang keseharian gue membersamai Rara. Sekarang istirahat dulu, karena mamak harus stay strong ga boleh sakit dan cukup istirahat.
Nurul - mamak muda yang jadi ingin kembali ngeblog.
Friday, September 16, 2016
Sekejap Semarang
Berangkat hari Jumat, 2 September 2016, setengah kemaleman karena gue tertahan di kantor akibat hujan deras. Ditambah pula driver G*** yang ngerjain kami: nunggunya lama, dituruninnya jauh. Alhamdulillah sampai Stasiun Pasar Senen masih bisa leyeh-leyeh dulu. Gue agak disorientasi ngeliat Senen. Tiga tahun lalu terakhir main ke sini, udah berubah banget. Dari alur antrian sampai musolanya. Kami naik Kereta Ekonomi Tawang Jaya, berangkat cuma kelewat 5 menit dari jadwal.
Besok paginya kami sampai di Stasiun Semarang Poncol, telat setengah jam dari jadwal. Langsung nyambung naik Trans Semarang, menuju kosan adek gue di Semarang Atas. Kata Mamah dan adek gue, daerah Undip dan sekitarnya disebut Semarang Atas karena posisinya yang lebih tinggi daripada pusat kota Semarangnya, yang disebut Semarang Bawah. Jadi kalo mau ke pusat kota, bilangnya mau ke Bawah.
Alhamdulillah masih bisa nengokin si Bocil di hari ulang tahun ke 18 nya. Happy birthday Bocil *tiup balon* Setelah menyerahkan segala titipan dia dan kado-kado, gue dan Mamah balik lagi ke Bawah, niatnya mau beli beberapa keperluan buat adek gue, tapi jadinya malah jalan ke Lawang Sewu haha.
| Mamak lebih gaul daripada anaknya:p |
Sebelum azan magrib, kami makan di deket hotel. Pengennya sih makan malam mewah dikit dalam rangka ulang tahun Bocil gitu kaan, tapi jauh nyarinya, angkot juga udah ngga ada. Jadi kami makan deket hotel aja haha.
Begitu turun di halte Pandanaran, Mamah malah pengen ke Kota Lama, lihat museum trick art, jadilah kami naik becak ke daerah Kota Lama.
| Becak Ride |
![]() |
![]() |
Sampai hotel langsung solat jamak, rapiin packing, lanjut cek out. Ternyata jalanan Semarang Minggu siang macet ya. Trans Semarang kami merayap di belokan sebelum Paragon Mall (lupa gue nama jalannya hehe). Sudah belok ke jalan menuju Poncol juga masih merayap, gue bolak balik liat GoogleMap dan jam tangan, degdegan ketinggalan kereta.
Akhirnya jam 1:40 siang kami sampai di Stasiun Semarang Poncol lagi. Langsung cetak boarding pass; ragu-ragu mau nyari bandeng. Akhirnya kami langsung naik kereta aja. Nggak beli oleh-oleh sama sekali, malah cuma satu barang yang kami beli selama trip di Semarang: kacamata hitam seharga Rp 25.000 di kios-kios barang antik sekitar Kota Lama haha.
Saturday, August 27, 2016
Prosesi: Pasmalima
Monday, August 22, 2016
Rindu 2
Rindu nyusup lewat Javana Spa
Rindu nyanyi dalem hati sepanjang jalur Bajuri - Lapangan Gas karena inget yel-yel waktu dilantik
Rindu bau lumpur jalur Cidahu dan Cibatok
Rindu memandang luasnya Segara Anak
Rindu memandang Baru Jari yang imut tapi sangar
Nggak rindu jalur Segara Anak - Senaru
Rindu ciprat-ciprat di sungai di sebelah Pos 2 Kerinci
Nggak rindu jalur Shelter 2 - Shelter 3 Kerinci
Rindu lihat lintah merah merona sebesar belut - lihat doang ya
Rindu sunset Shelter 2 Kerinci
Rindu jalan-jalan ke Kalimati bawa wadah air
Nggak rindu debu musim kemaraunya jalur Cemoro Kandang Semeru
Rindu jalur ceruknya Kerinci, anyep-anyep lembap
Nggak rindu terjembap di jalur sebelum Sabana 1 Merbabu
Rindu lari-lari turun dari Sabana 2 sampe Gerbang Selo
Rindu lari-lari di antara pohon edelweiss yang tinggi-tinggi di Mandalawangi macam di video klip India
Rindu memandang Merapi dari Watu Tulis Merbabu
Rinduuuuu banget sosorodotan turun dari puncak Rinjani dan Semeru
Rindu duduk-duduk cantik di atas jalur lava sebelum Pos Padabalong
Rindu angetin kaki di Aiq Kalak
Rindu menyipit-nyipitkan mata, melihat Danau Gunung Tujuh dari puncak Kerinci
Rindu tengok kanan kiri, nyiriin puncak Gunung Agung dan puncak Gunung Tambora dari puncak Rinjani
Rindu dibikin nangis sama gunung-gunung kecil di sekitar puncak Mahameru
Rindu berdiri di puncak Triangulasi Merbabu, pengen nyobain berdiri di situ sewaktu cuaca cerah
Rindu lihat puncak Gunung Salak di kejauhan dari puncak Pangrango
Rindu 360' puncak Gede, dari mulai kawah, puncak Pangrango, sampe alun-alun Suryakencana
Rindu kabut di sekeliling puncak Salak 2 yang kelihatan dari Salak 1
Rindu berdoa di setiap puncak gunung, bersyukur atas puncak, berdoa atas keselamatan perjalanan, berdoa untuk para pendahulu; berdoa sendiri ataupun berdoa dengan teman-teman tim pendakian.
Nurul - miss every thing too much.
Saturday, August 20, 2016
Rindu 1
Sudah lama sekali gue nggak mendaki. Terakhir mendaki tahun 2013.
Apalagi pendakian ke Rinjani yang juga sudah lamaa banget rasanya *walaupun baru 5 tahun lalu* tapi masih inget banget perjuangan summit attack, kurang lebih 6 jam dan sebagian besarnya jalan sendirian. Kalo gue inget-inget lagi, kok gue sinting amat jalan sendirian di jalur puncak gunung api tertinggi kedua di Indonesia, apalagi setelah banyak kabar pendaki yang tewas di Rinjani. How did I dare to walk alone along the summit track?
Dari segi umur gue merupakan anggota paling bontot dari rombongan gue. Dari 5 orang anggota tim, cuma 2 yang berhasil sampe puncak. Sama senior yang berhasil muncak itu pun, gue nggak barengan jalannya. Start summit attack memang barengan berlima, tapi selanjutnya tergantung dari banyak sekali faktor lain. Intinya sih, mencar. Ketemu dia lagi pun sewaktu dia sudah jalan turun sedangkan gue masih ngesot-ngesot menuju puncak.
Yang gue sadari adalah, bukan cuma mental dan fisik yang memungkinkan gue berhasil nyampe puncak, tapi ada banyak hal-hal yang di luar kuasa gue. Nggak kebayang kalo sebelum mendaki gue ga mempersiapkan fisik, ga makan dulu, atau ga bawa persiapan makanan di jalan; dan ga kebayang kalo saat gue jalan sendirian itu mental gue drop, atau gue kelelahan, atau gue hilang konsentrasi, atau tetiba cuaca memburuk, atau sejuta kemungkinan mengerikan lain.
Buat yang sudah pernah mendaki Rinjani pasti tau seberapa gilanya jalanan dari Plawangan Sembalun sampe puncak Rinjani. Belum lagi anginnya kalau kita jalan di puncak musim kemarau.
Mendaki itu bukan biar kaya orang-orang, mendaki itu bukan biar punya koleksi buat di-upload ke medsos. Mendaki itu, yang dari dulu gue pahami adalah, panggilan. Kalo kita tidak dipanggil untuk mendaki, sedikit sekali makna yang bisa kita pahami dari pendakian. Dan mungkin sampai saat ini mereka belum memanggil gue untuk datangi mereka karena beberapa cita-cita lain yang sedang gue perjuangkan.
Maafkan pendaki pemula yang sok tahu ini.
Bagaimanapun gue selalu berharap gue masih punya banyak kesempatam untuk bisa medapatkan panggilan untuk mendaki lagi.
Thursday, August 18, 2016
Preambule Comeback Post
So, actually, I have few writings I saved on my phone. I was going to post them on my Instagram, but the caption would be too long I think. Instead, I'll post them as my comeback posts to this blog.
Now, let me think about it. Why did I skip blogging?
First, maybe, because I tend to back to pen and paper. I always love how my fingers and my pen created the letters.
Maybe, also, I found another way, a simpler way to post something. Yep, Instagram and another social media.
And maybe, well, adult cliché problems, I've got no time. My timetable has turned into 7am-6pm office hour (including the trip) then continued to 6pm-8pm teaching private class. And yeees, gaming was pretty relaxing for my hectic brain.
I just hope that I can reduce my gaming time and write more. Just like I did. About anything. I neither do fashion nor make-ups so I can not be a beautyblogger or fashionblogger whatsoever. I travel less than before (no enough free time, sadly), so I have nothing about tavel to tell. So I'm gonna bore you all, I'll write about anything. Anything that cross my mind.
Monday, September 08, 2014
Cerita tentang yang Merantau
Akhir-akhir ini gue lagi kepo banget, tentang SM-3T, Raja Ampat, Kepulauan Ayau, dan Abidon. Dari mulai instagram, twitter, googling berkali-kali, blogpot, wordpress, apapun yang bisa memberikan informasi tentang hal-hal tersebut di atas. Ceritanya sih pengen tau seperti apa daerah yang akan ditinggali dia selama satu tahun ke depan, tapi kadang malah jadi sedih sendiri. Terharu sama perjuangan para guru itu melaksanakan tugasnya, dalam kondisi yang menurut gue nggak selalu mudah. Mungkin ada beberapa yang kebagian di kota yang sudah cukup maju sehingga tidak terlalu sulit untuk survive. Tapi ada juga yang ditempatkan di daerah yang betul-betul jauh dari hingar-bingar kehidupan modern; sekolah tempat mereka mengajar pun gurunya seperti antara ada dan tiada.
![]() |
| Ayau Archipelago is in red circle. Source |
Thursday, February 06, 2014
Age of Twenty Two
| Puncak Kerinci, 3 Maret 2013 |
![]() |
| Puncak Triangulasi Merbabu, 10 Juli 2013 |
| Ngarai Sianok, 7 Maret 2013 |
| tiga serangkai, judulnya beda semua :)) |
| 5 Mei 2013 |
| Sukabumi, 31 Desember 2013 |
![]() |
| Gunung Salak, 29 Desember 2013 |
| 22 Januari 2014 :) *harus banget foto pake slayer, saya yang minta hehe* |
Saturday, December 07, 2013
Not Just the TV Show
p.s. kalau liat playlist-nya di YouTube, klik link di atas aja :D
Saturday, September 14, 2013
Saturday, August 24, 2013
Bukan Kontradiksi
Pernah kah kau disugestikan untuk memiliki mimpi? Mimpi setinggi-tingginya, mimpi sebanyak-banyaknya. Kemudian beraksilah! Jangan cuma mimpi! Bentuk misi untuk mencapai visi! Kemudian si mimpi tidak hanya menjadi mimpi belaka, melainkan menjadi sebuah cita-cita.
Si ini berkata pada saat usianya10 tahun bahwa suatu hari ia akan berdiri di atas karpet merah Hollywood. Si itu berkata pada saat ia susah bahwa suatu hari nanti ia akan menciptakan penafkahan bagi orang-orang. Kemudian kita disuruh melihat betapa suksesnya mereka, betapa berhasilnya mereka, karena mereka punya mimpi.
Tapi sebetulnya apa? Mimpi itu layaknya penyakit kronis. Yang menjalar, bermula pada satu bagian, kemudian menggerogoti keseluruhan bagian. Selesai mimpi yang satu, terwujud mimpi yang dua, kemudian muncul mimpi yang tiga dan yang empat dan yang lima dan yang begitu banyak sampai papan mimpimu penuh dan kau lelah menghitungnya.
Namun memang itulah esensinya. Mimpi, cita-cita, dan harapan yang membuat kita hidup. Membuat kita bertahan. Karena kita tahu, ada si 'yang begitu banyak sampai papan mimpimu penuh dan kau lelah menghitungnya' yang harus kita raih.
-Ditulis sambil meracau di tengah hari yang panas
Sunday, July 14, 2013
Pendakian Merbabu Part 1 : Boarding
| foto sebelum berangkat sama Bapak & Mama |
| Merbabu dan Merapi |
| basecamp |
| foto sebelum berangkat |
Pendakian Merbabu Part 2 : Ngebut!
| gerbang pendakian |
| Pos 1 |
| pertigaan sebelum Pos 2 |
| Pos 2 |
| sedikit trek menuju Watu Tulis |
| Merapi :3 |
![]() |
| hijau hijau hijau |
| Buluk tidur |
| sempat cerah |
| Sabana 1 |
| jalur menuju sabana 2 |
| Sabana 2 |
| sunrise menuju 3142 |
| Poci's second peak |
| puncak kali ini bertepatan dengan ulang tahun adik gue yang merupakan kakaknya Ikhsan :) |
| hello Merapi, i'll come to ya later :3 |









