Friday, June 23, 2023

Menjelang Hadirnya Anak TK di Rumah Kami

   Mendekati tahun ajaran baru, mendekati anak pertamaku memasuki fase hidupnya sebagai anak dengan usia prasekolah. 
   Lalu aku tetiba terpikir, how well would she be at her school, as a student, as a learner? Aku sejujurnya sampai sekarang pun santai kalau bukan mungkin kelewat santai soal akademik. Buibuk lain ada yg resah anak seumurnya sudah bisa menulis, sudah bisa membaca. Aku sejauh ini masih santai, stimulasi sebisaku semampuku, selesai. Gak ada target anakku harus bisa baca umur sekian, bisa menulis sebelum umur sekian. 
   Terpikir lagi, nilai akademik. Buatku, Kamara tinggi atau tidak nilainya, naik atau tidak nilainya, aku sepertinya tidak akan terlalu keberatan. Buatku, lebih penting Kamara merasa nyaman dengan sekolahnya, cinta dengan proses belajar itu sendiri, tidak merasa tertekan dengan nilai harus segini segitu. Buatku, lebih penting Kamara punya softskill dan memanfaatkan kemampuannya untuk hal-hal yang positif. Buatku, lebih penting Kamara berani bicara di depan umum, di depan orang lain dengan percaya diri, yakin akan kemampuannya.
Sekali lagi, ini buatku, menurutku.
   Orang tua lain mungkin berbeda pandangan, tapi tujuannya sama, untuk kebaikan anak.

Friday, June 09, 2023

A Little Story for More Alhamdulillah

    So, I had my second pregnancy for about 56 days. Sometimes, even when we've expected any possibilities, any twirling emotion still may occur.

Note: postingan ini mungkin sedikit panjang, karena aku ingin meyimpan ceritanya di sini.


    Tanggal 3 Mei 2023, akhirnya periksa kehamilan, after two weeks knowing that I'm pregnant, setelah melewati Idul Fitri dan cuti dokter. Entah kenapa setiap pertama kali periksa hamil, aku selalu seperti mempersiapkan apa pun yang mungkin terjadi. Kemungkinan-kemungkinan apa pun. Ternyata di kehamilan kedua inilah aku mengalami apa yang bisa aku bilang ekspektasi yang tidak kuekspektasikan.

    Janin dan kantung hamil menempel di luka bekas operasi SC-ku dulu saat melahirkan anak pertama. Dokter pertama yang menanganiku menggelengkan kepalanya beberapa kali sambil menatap monitor tampilan USG. Janinnya tumbuh normal dan detak jantungnya terdengar. 

    Alhamdulillah sekali memilih ditangani dengan beliau when we first found out about the condition. Beliau mungkin tahu apa yang akan aku hadapi dan dari ucapan beliaulah aku percaya kalau ini sudah merupakan takdir dari Allah. 

    Beliau kemudian memberikan rujukan untuk berkonsultasi dengan dokter subspesialis fetomaternal di rumah sakit lain; untuk memastikan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Hari itu juga kami ke rumah sakit tersebut, meskipun baru malam harinya kami bisa bertemu dengan dokter yang disarankan oleh dokter pertamaku.

    Apa yang aku rasakan saat itu? Pasrah sepasrah-pasrahnya, sambil ya berdoa juga tentunya. Sedih? Belum terlalu terasa karena aku lebih memikirkan apa yang akan aku jalankan selanjutnya. Menerima. Di titik itu aku merasa aku menerima. 

    Aku juga sangatttt bersyukur sekali, Bapak Ahmad Mubarik dengan kalem menemani istrinya jadi aku pun tidak terbawa panik; meskipun aku yakin pikiran kami sama-sama sibuk dengan segala kemungkinan dan beliau juga pasti mikirin kerjaannya yang ditinggal sementara. 

    Malam harinya, diagnosis dari dokter kedua yang merupakan dokter kandungan subspesialis fetomaternal adalah Cesarean Scar Ectopic Pregnancy or CSEP. Penyebabnya menurut beliau adalah aku kurang effort untuk mengembalikan otot rahim dan segala macam otot yang seharusnya dikembalikan setelah melahirkan. Jadi muncul lah rongga di luka SC dan menempellah kantung hamilku di situ. 

    Aku sempat googling tentang CSEP ini, menurut beberapa link yang kubaca, kejadiannya memang meningkat seiring meningkatnya proses kelahiran secara SC. Namun, kemungkinan terjadinya CSEP ini perbandingannya 1:1800 dari kehamilan pasca SC. Jadi memang aku si satunya dari satubandingseribudelapanratus.

    Dokter keduaku ini beberapa kali bilang kalau dalam kasus seperti ini, dokter akan mendahulukan keselamatan ibu. Posisi menempel yang salah tempat ini akan mengakibatkan perdarahan yang parah, kata beliau. Beliau juga menunjukkan banyaknya pembuluh darah di tempat dedek janin menempel, terlihat di layar USG. Di sini pun dipastikan janinnya normal, detak jantungnya dalam hitungan yang normal pula. Aku ingat angkanya, 114.

    Rekomendasi tindakan dari beliau adalah laparotomi, yaitu bedah perut. Setelah diskusi sama Pak Ahmad, kami memutuskan untuk berganti jaminan karena rumah sakit yang kedua ini lumayan biayanya, bisa buat aku umroh kayaknya. Hari berikutnya kami kembali ke rumah sakit dengan jaminan yang lain, asuransi pemerintah. Namun, baik dokter yang pertama menanganiku (beliau praktik juga di rumah sakit ini) maupun yang kedua, sedang tidak available. Kami berganti ke dokter ketiga.

    Saat konsultasi dengan dokter ketiga ini kami berusaha menjelaskan seperti yang sudah dipaparkan oleh dokter-dokter sebelumnya, tapi ada satu kali aku salah bicara. Saat menyebutkan rekomendasi tindakan dari dokter kedua, aku menyebutkan "SC" yang seharusnya laparotomi. Begitu aku mengucapkan SC, dokter ketigaku ini langsung kaget dan kemudian menceritakan pengalaman beliau membedah rahim di kondisi kehamilan masih sangat muda. Beliau bilang, "Rahim itu masih kecil sekali, seukuran telur ayam." Beliau menolak untuk menjalankan laparotomi and will go for curettage instead. Lalu aku dijadwalkan untuk tindakan tanggal 6 Mei 2023.

    Keluar dari ruangan dokter, aku dan Pak Ahmad saling menatap. Lho gak jadi laparotomi. Begitu lah kurang lebih makna tatapan kami. 

***

    Setelah melewati persiapan operasi, tes darah dan sebagainya, hari Sabtu subuh, aku dan Pak Ahmad ke rumah sakit lagi. Sekitar jam 10 dipasang alat untuk persiapan kuret dan kami menunggu sampai sekitar jam 15.30 aku ganti kostum untuk tindakan nanti. Sewaktu menunggu sebelum masuk ruang operasi, aku terus-terusan terpikir semoga selesai dengan kuret dan aman dan segala macam pikiran (maksain) positif lainnya. Alhamdulillah ngobrol ngalor ngidul ngulon sama Pak Ahmad bikin sedikit teralihkan.

    Kuret ini aku dibius umum alias pengsan alias tidak sadar. Sebelum dipingsanin, aku dzikir aja terus biar gak kepikiran soal si laparotomi. Kemudian aku masuk ke dalam video klipnya Coldplay x screensaver Windows2000. Wow bulat bulat warna warni, segitiga warna warni, kotak warna warni, kubus warna warni, balok warna warni. Lalu aku dengar aku disuruh angkat kepala. Hah, gimana caranya angkat kepala, aku lupa. Gak lama, aku merasa aku didorong di kasur terus ada yang pegangin tanganku, tangan Pak Ahmad. Sudah selesai sepertinya.

    Aku ingat aku nanya banyak hal sama Pak Ahmad, tapi aku gak ingat bicara apa aja. Cuma satu yang aku ingat, "Kamu udah buka puasa belum?" Karena beliau lagi puasa Syawal. Kata Pak Ahmad, aku masuk ruang operasi sekitar 20 menit. 

    Jam 21.00 aku masuk ruang perawatan biasa. Lalu kami tidur. Pertama kalinya tidak tidur sama Kamara huhu. Siang tadi dia ke Gramedia dengan Ninihnya. Besok paginya jam 07.00 aku sudah boleh pulang.


***


    Sepekan kemudian aku kontrol pascatindakan. Ternyata masih ada yang tertinggal, bentuknya seperti bulatan kantong rahim. Aku diminta minum obat untuk meluruhkan lalu harus kontrol lagi pekan depan.

    Kontrol kedua, masih ada juga bulatan itu. Beliau membersihkan secara manual namun ternyata ada alat yang kurang. Aku diminta untuk datang ke tempat praktik beliau di sebuah apotek malam nanti.

    Akhirnya setelah menunggu lama sekali karena aku diterakhirkan, dokter bilang sudah bersih. Beliau juga cerita sewaktu USG setelah proses kuret, bulatan itu tidak terlihat; baru terlihat saat aku kontrol pekan lalu.

    Ada satu hal yang buat aku senyum tiap aku ingat dari kontrol kedua hari itu baik yang siang maupun yang malam. Sewaktu ke rumah sakit siang harinya, motor kami sempat mati terus menolak untuk dinyalakan selama 10 menit saat berhenti di lampu merah. Sewaktu ke tempat praktik dokter malamnya, belum jauh dari rumah, hujan turun deras sederas-derasnya sampai kami berteduh kurang lebih setengah jam. Kami seperti diberikan "penunda" untuk datang terlalu cepat ke dokter, tapi kami jadi paham itu biar kami gak terlalu lama menunggu, karena aku memang sengaja diterakhirkan khawatir agak lama di dalam ruangan dokter jadi membuat antrian panjang (walaupun awalnya aku gak ngeh aku diterakhirkan). MasyaAllah, sekecil itupun sudah Allah atur.

    Jadi aku sangat yakin kehamilanku yang bermasalah kali ini pun memang sudah diatur Allah. Awalnya aku sempat takjug juga karena memang kehamilan ini sesuai timeline rencana yang aku buat setahun lalu, aku berpikir alhamdulillah ternyata Allah menyetujui rencanaku. Namun ternyata rencana Allah lebih baik lagi, aku belajar banyak sekali dari kejadian ini.

    Sekian kisah Cesarean Scar Ectopic Pregnancy di kehamilan keduaku ini. Semoga kehamilan selanjutnya lancar aamiin :)


Sunday, September 04, 2022

Komparatif

Terkadang kita merasa pilihan kita lebih baik daripada orang lain. Ya kita tak tahu saja, mungkin orang lain pun menganggap pilihan mereka lebih baik daripada pilihan kita.

Menurutku, tidak ada yang lebih baik. 

Semua orang punya preferensi masing-masing, punya latar belakang yang berbeda, punya pengalaman yang tak sama, punya keinginan tersendiri, punya kemampuan yang berbeda tingkatannya, dan banyak lainnya.

Aku kira, tidak perlu sih kita merasa jalan-jalan ke mall lebih tidak seru daripada jalan-jalan ke alam.
Kalau kita butuh untuk membeli sabun, kita akan pergi ke mall kan. Paling tidak ke minimarket. Bukan ke camping ground. Mungkin warung camping ground jual sabun, tetapi untuk apa jauh-jauh ke camping ground hanya untuk beli sabun.
Hal yang utama adalah; sumber kebahagiaan setiap orang itu ya berbeda-beda. Orang yang suka ke mall mungkin saja itulah yang membuat dia happy. Tidak perlu disama-samakan.

Aku kira juga, tidak perlu merasa ibu rumah tangga lebih santai daripada ibu bekerja. Ah, kalau ini aku tak berani banyak bicara. Aku cuma pernah 2 bulan jadi ibu bekerja dan baru 3 tahun 7 bulan jadi ibu rumah tangga. Pengalamanku jadi ibu bekerja tidak banyak.

Ibu rumah tangga full dan ibu rumah tangga dengan bisnis pun tidak perlu dibandingkan. Memenej waktu butuh pembiasaan.

Bisnis yang omsetnya masih tipis dengan bisnis yang sudah menampakkan hasil -- dengan waktu start yang kurang lebih sama -- juga menurutku sama hebatnya. Terpenting, tidak jalan di tempat dan tidak berhenti bukan.

Bisnis rumahan pun tidak perlu merasa kita paling memberikan yang terbaik, pertimbangan dan preferensi, sekali lagi, tidak sama. "Makanan aku isiannya paling banyak harganya murah tapi enak. Ada yang jual harga sama tapi isiannya dikit banget". 
Good for you; tapi menurutku, ya biarkan saja orang jual dengan standarnya dia. Tidak perlu membandingkan, baik kita tidak mengenal atau mengenal si penjual tersebut.


Aku (masih) belajar untuk tidak membandingkan diriku dengan ibu-ibu lainnya, dengan perempuan lainnya.
Kadang aku lupa, "Kok, aku begini saja sudah kepayahan. Dia didera masalah lebih berat tapi kuat."
Kemudian tersadar. Aku tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Hanya yang kulihat dari kacamataku.

Penyanggahan.
Aku tidak mengatakan bahwa kita tidak perlu berkembang. Kita hanya perlu berjalan di jalur kita sendiri dengan menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri.

 Mantraku: aku cukup sebagai diriku.




- ditulis sebagai pengingat untuk diri sendiri.

Tuesday, March 09, 2021

What Did They Say?

So here's my random tought while I'm ironing.
Menurut gue, omongan orang lain tidaklah perlu kita pikirkan terlalu dalam. Well, selain omongan yang memang tujuannya untuk memberi saran atau kritik dan disampaikan secara langsung, tidak penting lah kita pikirkan. Maksud gue gini, ketika ada orang lain ngomongin gue, ya itu terserah mereka. Gue pun mungkin pernah ngomongin orang lain, entah itu sama suami gue atau sama orang lain. Jadi buat gue itu biasa banget, biar sajalah. Orang yang lebih paham kita adalah ya kita sendiri. Gue belajar untuk tidak mikirin apa kata orang semenjak kuliah. Dulu, gue sempet berjuang untuk mem-bodoamat-kan omongan orang, terutama tentang preferensi makan gue. Sewaktu masih kerja gue sering kena komentar tentang cara dan preferensi makanan gue. Awalnya dongkol banget kalau ada yang bahas itu, tapi lama-lama yaudahlah, mereka memang benar kok dan penyebabnya juga gue sudah tahu - dan tidak mungkin diperbaiki. Jadi selesai sudah. Dari situ juga gue makin belajar untuk menghiraukan omongan orang, tentang apa pun itu.
Pola asuh yang gue terapkan ke anak gue pun bukan biar anak gue dibilang pintar, dibilang baik, dibilang apa atau yang lainnya. Pola asuh yang gue terapkan ke anak gue ya itu buat dia juga. Apa yang gue pahami itu baik dan tidak melanggar syariat agama ya gue coba terapkan ke anak gue. Kalau hasilnya anak gue jadi pintar dll dll itu bukan tujuan utama gue. Tapi sih kalau ngomongin parenting mah ya bisa panjang banget gue nulisnya hahaha.
Pokoknya mah yang paling penting itu omongan dari support system terdekat kita lah yang paling penting. Bisa diri kita sendiri, suami, orang tua, atau mungkin anak kalau memang anaknya sudah bisa berikan insight ke orang tuanya.

Sekian, kumau nyetrika baju lagi.

Wednesday, September 18, 2019

Anakku adalah Anakku yang Ternyata Memang Anakku

Disclaimer: postingan ini akan bernuansa sok tua dan juga sok tau.

Mari kita mulai.

Kadang kalau lagi eling ga eling suka kepikiran pengen punya anak cukup 1 sahaja. Huahahaha.
WHY????
Bukannya gue takut hamil lagi. No. Malah pengen hamil lagi, hamil itu fase paling nikmat dari perjalanan parenting menurut gue hahaha. Bukannya takut melahirkan lagi. Engga, malah gue ingin banget bisa berikhtiar untuk bisa VBAC - vaginal birth after caserian - seandainya diberikan kepercayaan untuk hamil lagi.
Namun, tanggung jawab mendidik anaknya itu lho, yang sungguh sangat tidak main-main. Selalu percaya bahwa Ibu adalah sekolah, madrasah, guru, pertama dari seorang anak - Bapak kepala sekolah berarti ya hehehe. Setiap Ibu (dan Bapak juga pastinya) pasti ingin anaknya tumbuh jadi seseorang yang baik, berguna untuk orang lain, dll dsb dst pokoknya yg baik-baik lah. Ya ga bisa dong tiba-tiba si Anak jadi orang yang berakhlak karimah tapi tidak diajarkan dan tidak dicontohkan oleh orang tuanya. Mungkin special case ada. Tapi ya pada umumnya tetap orang tua adalah diktatnya anak dan anak fotokopiannya orang tua dengan beberapa perbedaan di beberapa halaman karena ada pengaruh lingkungan juga. Monmaap, Anda mengulang kata beberapa.
Intinya maaaaah, gue tidak bisa memastikan sifat dan sikap buruk apa yang nantinya terbentuk dan menempel di anak gue. Gue juga tidak bisa memastikan semua sifat dan sikap baik yang gue inginkan bisa ada pada anak gue. Yang jelas, gue harus dan memang tanggung jawab gue untuk memastikan bahwa sifat dan sikap baik itu lebih banyak daripada yang buruknya.

P.S. Mohon maaf judul memang tidak ada hubungannya dengan isi tulisan.

Sunday, May 26, 2019

Locomotive Baby

Setelah mengendap di draft selama lebih dari dua minggu, cerita pertama yang akan gue share tentang peribu-dan-anak-an adalah... perjalanan ke Semarang naik kereta bersama Rara. Bukan tips atau apa sih, karena gue baru pertama kali ngajak Rara jalan-jalan dan langsung jauh haha. Kebun Raya Bogor aja belum pernah dikunjungi, langsung nyalip ke Semarang hihi. Jadi ini lebih ke cerita mengajak Rara berpergian. Oh iya, Rara ke Semarang umur 4 bulan 3 minggu, dalam rangka menengok omnya Rara yang kuliah di sana, sebelum bulan Ramadan.
Sebelum berangkat, gue sempet baca-baca di salah satu buku yang gue beli dalam rangka menjadi orang tua baru, tentang tips berpergian sama bayi.
Tips yang paling gue inget adalah, kurang lebih seperti ini: "Jika Anda berpergian dengan menggunakan kendaraan umum, berpergianlah di jam bayi tidur sehingga ia akan lebih banyak tertidur."
Untuk perjalanan berangkat, gue bisa ambil perjalanan malam. Memang setiap ke Semarang kami pasti naik kereta Tawang Jaya yang berangkatnya malam, yaitu pukul 23.00. Masuk ke gerbong dan duduk di bangku kereta awalnya Rara sempet kebingungan. Wajar banget lah ya, biasanya cuma berdua sama ibunya di rumah, lha ini ramai sekaliii banyak orang. Setelah gendong oper-oper Bapak-Ibu-Nenek-Aki, Rara berhasil tidur pules dengan digendong Ibu dan Nenek secara bergantian. Dia tetap pulas sampai terbangun jam 5 pagi. Perjalanan ke Semarang ini kurang lebih butuh waktu sekitar 7 jam.
Nah untuk perjalanan pulang, gue pun niatnya pengen naik kereta yang jalannya malam. Kalau ga salah ada kereta Brantas yang berangkat dari Semarang sekitar pukul 21.00. Namuuun, ternyata Aki-Neneknya Rara sudah duluan beli tiket untuk Tawang Jaya yang berangkatnya pukul 13.00 dari Semarang. Gue pikir daripada berdua doang sama Bapaknya, yasudah kami ikut beli tiket yang sama dengan Aki-Neneknya. Yep, di kereta siang ini karena bukan di jam tidurnya, Rara cuma tidur sebentar-sebentar dan tidak terlalu nyenyak. Lumayan agak rewel karena sebetulnya mengantuk tapi kadang ada suara dari pengeras suara atau suara petugas dari restorasi yang keliling nawarin makanan jadi Rara sering terbangun. 
Selanjutnya, mengenai itinerary. Kalau pergi sewaktu belum nikah, yaa sebelum punya bayi deh, dalam satu hari mungkin bisa mengunjungi beberapa tempat. Selain itu, durasinya juga singkat: satu malam di kereta, satu malam di hotel, besoknya langsung pulang. Kali ini karena bawa bayi, kami ga terlalu pergi ke banyak tempat, malah satu hari cuma satu lokasi saja. Kami juga menginap dua malam di Semarang. Maksudnya biar Rara bisa lebih banyak istirahat. Di hari pertama kami cuma ke Lawang Sewu, sekalian menunggu jam check in hotel. Kami pergi ke sana setelah menitipkan barang bawaan di lobby hotel. Hari kedua juga cuma ke Klenteng Sam Poo Kong di siang harinya, karena paginya Rara tidur terus hihi. Pokoknya lebih santai dan tidak terlalu banyak agenda. Bayi perlu adaptasi dengan lingkungan baru pastinya kan, kalau terus diajak jalan, istirahatnya hanya sedikit plus terlalu banyak stimulasi jadinya kelelahan akhirnya rewel.
Selanjutnya, soal mandi! Hehe. Ini gue agak menyesal pilih hotel yang kurang proper kalau untuk bawa bayi. Kalau orang dewasa sih ga masalah ya hotel sederhana juga. Hotel yang gue pilih ini ternyata ga punya wastafel besar, hanya ada wastafel kecil dan sempit. Niat gue mau mandiin Rara di wastafel sebagai ganti bak mandi pun sirna. Ga mungkin cukup anak aku yang gemas itu mandi di wastafel sempit, dan dia juga belum bisa duduk tegak - yha baru mau 5 bulan umurnya. Akhirnya dua mandi pertama, gue ikutan mandi sama Rara, jadi Rara mandi di shower sambil gue gendong. Air panas hotelnya ga keluar pula, kecewa jadinya huhu. Terus setelah satu malam di hotel gue baru tau kalau ternyata di kamarnya Aki-Nenek ada ember! Jadi dua mandi berikutnya Rara mandi di ember, dan air hangatnya baru keluar. Gue jadi mikir selanjutnya kalau mau bawa Rara nginep di hotel, ambil yang hotel yang agak bagus sekalian deh. Kasian kalau jadinya mandi ga nyaman karena airnya dingin. Oh iya Rara masih mandi air hangat, tidak terlalu hangat sih, yang penting tidak dingin hehe.
Mungkin itu saja yang bisa gue share tentang perjalanan bersama bayi lima bulan kurang 1 minggu.
Terima kasih bayi Bolangku yang jagoan karena lebih banyak antengnya daripada rewelnya. We'll go somewhere else soon!

Note:
1. Mungkin ada pertanyaan, kok naik kereta ekonomi? Ga kasian sama bayi? Kalau gue justru mikirnya ekonomi lebih leluasa. Di kereta ekonomi kan seat nya bablas tuh ya, bukan kursi 1-1, dan seat nya ada yg tiga deret. Gue beli tiket untuk 3 dewasa dan 1 bayi. Bayi ga dapet tempat duduk, tapi biar kursi 3 deret itu jadi milik kami, gue beli tiket pakai nama adek gue. Jadi seat yang 3 kami beli satu deret, lega kan? Kalau bayi pegel bisa dibaringin dulu. Kalau eksekutif kan sepengalaman gue yang lebih sering naik ekonomi, setiap gue naik eksekutif, seatnya dua dan 1-1, ga bisa baringin bayi begitu saja tanpa ada ganjelan di sekitar punggung bayi. Dan pastinya lebih murah, jadi beli 3 seat pun ga bikin rogoh-rogoh rekening banget.
2. REMINDER! Kondisi setiap anak bisa jadi berbeda. Gue bawa Rara naik kereta dan alhamdulillah anaknya sehat. Jangan lupa selalu pantau kesehatan bayi/anak sebelum-saat-setelah berpergian; bawa obat semisal penurun panas jika diperlukan. Jangan paksakan bayi berpergian kalau sekiranya bayi bakal kurang nyaman. Orang tua harus persiapkan segala perabotan dan perintilan termasuk siapkan mental nenangin anak yang mungkin rewel di jalan.
Happy travel with Nakicik Ghemesyin!

Here's the group photo!


Nunu - mamak yang ingin anaknya banyak belajar dari cerita perjalanan.

Hello, Anybody Here?

Jadiiiiii, tadi gue ikutan acara Buka Puasa Bersama keluarga superbuesarku, yaitu Pasmalima. Ketika gue lagi gendong-gendong anak bayi (anakku! Iyhaaa gue udah punya anak), tiba-tiba ada PAL SMA yang nyamperin. "Kak, kakak Nurul Huda kan? Aku baca blog kakak lho, yg tentang Pasmalima." Oh my, sungguh kutersipu malu. Hahaha. Really, ya memang sih namanya blog, kita ya nulis untuk semua orang, but when somebody that you don't know suddenly reported themselves reading your writings, for me it's kinda malu aku malu pada semut merah. Hahahaha.
So, well. I went re-reading some of my post. Alhamdulillah, gak malu-maluin banget kok.
Anyway, semoga dia ga baca postingan ini yah, karena gue ceritain ini kan jadinya hahaha. Dan iya, gue lupa nanya nama dia siapa hahaha. Sok artees amat gue.

So what did I miss? Banyaaak sekali.
Sekarang gue sudah menikah, sudah punya seorang anak, bayi berumur 6 bulan.
Nikah sama siapa? Ya sama mantan pacar yang ga kepikir bakal jadi pacar apalagi jadi suami itu.
Anaknya perempuan atau laki-laki, siapa namanya? Perempuan, namanya kecilnya Rara ❤ She's soooo lovely. Anaknya anteng, murah senyum, seneng ketawa. Alhamdulillah.

Mungkin kalo ada waktu luang gue akan cerita tentang keseharian gue membersamai Rara. Sekarang istirahat dulu, karena mamak harus stay strong ga boleh sakit dan cukup istirahat.

Nurul - mamak muda yang jadi ingin kembali ngeblog.

Friday, September 16, 2016

Sekejap Semarang

Dua minggu lalu gue dan Mamah main ke Semarang, nengok sekaligus rayain ulang tahun anak bontot yang baru mulai merantau.
Berangkat hari Jumat, 2 September 2016, setengah kemaleman karena gue tertahan di kantor akibat hujan deras. Ditambah pula driver G*** yang ngerjain kami: nunggunya lama, dituruninnya jauh. Alhamdulillah sampai Stasiun Pasar Senen masih bisa leyeh-leyeh dulu. Gue agak disorientasi ngeliat Senen. Tiga tahun lalu terakhir main ke sini, udah berubah banget. Dari alur antrian sampai musolanya. Kami naik Kereta Ekonomi Tawang Jaya, berangkat cuma kelewat 5 menit dari jadwal.
Besok paginya kami sampai di Stasiun Semarang Poncol, telat setengah jam dari jadwal. Langsung nyambung naik Trans Semarang, menuju kosan adek gue di Semarang Atas. Kata Mamah dan adek gue, daerah Undip dan sekitarnya disebut Semarang Atas karena posisinya yang lebih tinggi daripada pusat kota Semarangnya, yang disebut Semarang Bawah. Jadi kalo mau ke pusat kota, bilangnya mau ke Bawah.
Alhamdulillah masih bisa nengokin si Bocil di hari ulang tahun ke 18 nya. Happy birthday Bocil *tiup balon* Setelah menyerahkan segala titipan dia dan kado-kado, gue dan Mamah balik lagi ke Bawah, niatnya mau beli beberapa keperluan buat adek gue, tapi jadinya malah jalan ke Lawang Sewu haha.


Mamak lebih gaul daripada anaknya:p

Sepulang dari Lawang Sewu, kami cek in hotel dulu, hotelnya deket kosan Bocil. Habis cek in dan gue juga Mamah bersih-bersih, kami semua, termasuk Bocil yang nganterin ransel gue ke hotel, tidur sampai asar haha.
Sebelum azan magrib, kami makan di deket hotel. Pengennya sih makan malam mewah dikit dalam rangka ulang tahun Bocil gitu kaan, tapi jauh nyarinya, angkot juga udah ngga ada. Jadi kami makan deket hotel aja haha.
Minggu pagi, rencananya sih beli oleh-oleh karena temen kantor gue nitip beliin bandeng. Gue dan Mamah jalan lagi, ke daerah Pandanaran; Bocil ada kegiatan di kampusnya.
Begitu turun di halte Pandanaran, Mamah malah pengen ke Kota Lama, lihat museum trick art, jadilah kami naik becak ke daerah Kota Lama.
Becak Ride
Mamah keasikan banget foto-foto, udah gue tarik biar cepet ke pintu keluar tapi nyangkut lagi nyangkut lagi, pengen foto di sini, di situ hahaha.


Jam 11 kami baru keluar dari museum, kereta kami jam 2 siang, dan tas kami masih di hotel; gambling keburu atau nggak beli oleh-oleh. Akhirnya kami langsung ke hotel, oleh-oleh nanti aja di stasiun.
Sampai hotel langsung solat jamak, rapiin packing, lanjut cek out. Ternyata jalanan Semarang Minggu siang macet ya. Trans Semarang kami merayap di belokan sebelum Paragon Mall (lupa gue nama jalannya hehe). Sudah belok ke jalan menuju Poncol juga masih merayap, gue bolak balik liat GoogleMap dan jam tangan, degdegan ketinggalan kereta.
Akhirnya jam 1:40 siang kami sampai di Stasiun Semarang Poncol lagi. Langsung cetak boarding pass; ragu-ragu mau nyari bandeng. Akhirnya kami langsung naik kereta aja. Nggak beli oleh-oleh sama sekali, malah cuma satu barang yang kami beli selama trip di Semarang: kacamata hitam seharga Rp 25.000 di kios-kios barang antik sekitar Kota Lama haha.
Insya Allah nanti main lagi ke Semarang, dengan formasi yang lebih lengkap :D

Nunu - akhirnya main ke Ibu Kota Jawa Tengah.

Saturday, August 27, 2016

Prosesi: Pasmalima

Gegara baca postingannya Didit di blognya dahulu, gue jadi teringat beberapa fase yang gue lewatin selama 10 tahun gue jadi bagian dari keluarga besar Pasmalima. Yap, sudah 10 tahun gue jadi bagian dari Pasmalima.
Fase pertama, CaPAL. Polos dan semangat. Mungkin itu yang bisa gue simpulkan dari masa-masa jadi calon anggota. Berbekal niat sedari SMP, ingin naik gunung, semangat selalu ikut latihan jalan terus. Meskipun udah dengar selentingan-selentingan soal pelantikan nanri kaya apa, hajar terus. Lanjut terus.
Dilantik, masuklah masa paling bahagia. PAL baru, belum ada junior. Mulai praktik naik gunung sungguhan, ditemani PAL yang lebih dulu dilantik.
Selanjutnya justru fase yang menurut gue paling berat, yaitu fase jadi pengurus. Ingeeet banget dulu sempet ngeluh, nyesel, muak, stres, jenuh. Tahun pertama jadi pengurus rasanya stres banget. Tekanan dari alumni, tekanan dari sekolah. Sebetulnya alumni itu selalu siap bantu, tapi entah mengapa, pada saat itu anggapan kami adalah bahwa mereka itu nuntut. Sekarang sih zaman sudah berubah, alumninya baik baik 😀 Tahun kedua jadi pengurus. Entah kalo yang dirasakan teman-teman yang lain, tapi tahun kedua gue jadi pengurus, gue lebih merasa menikmati. Meskipun tanggung jawabnya lebih besar karena jabatan yang lebih tinggi daripada tahun  pertama, gue bahagia sekali menjalankan segala tanggung jawab gue.
Lulus SMA jadi alumni baru. Ini fase peralihan yang lumayan penting *halah*. Di fase ini seleksi alam paling jelas terasa. Yang memang sudah pengen hilang dari Pasma, udah entah ke mana. Tapi, yang masih bertahan pun banyak. Alhamdulillah, gue memilih untuk bertahan. Gue selalu berpikir, hal-hal yang bikin gue nyesel masuk Pasma itu ga ada apa-apanya dibandingkan dengan hal-hal yang gue terima dari Pasma
Setelah lulus SMA, lebih banyak lagi pelajaran berharga yang gue dapatkan dari Pasmalima.
Fase selanjutnya, alumni setengah mateng. Alumni baru bukan, tapi pengalaman masih minim, maklum anak kuliahan. Meskipun begitu, di masa ini gue dapet kesempatan luar biasa. Mungkin ga semua teman-teman gue masih dapat kesempatan untuk bisa mendaki. Uang pas-pasan, waktu mepet, izin dari orang tua ga dapet. Tapi alhamdulillah sekali, pada masanya gue diberikan kesempatan mendaki 5 gunung langsung dalam rentang waktu 2 tahun. 
Kemudian masuk jadi alumni yang lebih dewasa. Ya seharusnya begitu, kan tadi setengah mateng, sekarang seharusnya udah mateng haha. Kalo gue sih merasa gue belum mencapai ke situ. Memang pernah berusaha dan mencoba jadi alumni yang bisa banyak memfasilitasi teman-teman di SMA, meskipun dengan kemampuan yang sebisanya (makanya gue ga pernah merasa sukses jadi seorang alumni yang grown up hehe.
Fase terakhir. Fase yang sedang gue alami sekarang *nangis tujuh hari tujuh malem*. Alumni yang sudah mulai sulit menyisakan waktunya untuk organisasi yang sudah memberikan banyak sekali pelajaran hidup. Sejujurnya, rasa tanggung jawab, rasa pengen support terus, rasa ingin selalu join kegiatan anak-anak SMA itu masih ada. Kendala paling besar waktu, klise. Ada juga pikiran untuk memberikan ruang buat teman-teman alumni yang masih punya waktu lebih (baca: belum nyampe fase terakhir ini).

Mungkin bisa aja ada fase selanjutnya, tapi fase terakhir ini gue bilang mencakup banyak sekali kalangan alumni. Karena apapun latar belakangnya, fase terakhir ini pada akhirnya akan menghampiri setiap alumni yang dulunya selalu aktif support teman-teman SMA dalam bentuk apapun.

Jadi, buat teman-teman SMA (kali aja ada yang nyasar baca blog gue), semoga semangat kalian buat Pasmalima selalu ada, selalu berikan yang terbaik buat keluarga kalian ini. Percaya deh, semua yang kalian pelajari di Pasmalima itu bisa kalian terapkan di kehidupan seterusnya. Yaaah, yang sabar aja kalo masalah Pasma itu lagi itu lagi, wayahna.

Nunu - PAL 251 angkatan XXII - pengen banget ikut Pendidikan Dasar dan Pelantikan tahun ini.

Monday, August 22, 2016

Rindu 2

Rindu nyusup lewat Javana Spa

Rindu nyanyi dalem hati sepanjang jalur Bajuri - Lapangan Gas karena inget yel-yel waktu dilantik

Rindu bau lumpur jalur Cidahu dan Cibatok

Rindu memandang luasnya Segara Anak

Rindu memandang Baru Jari yang imut tapi sangar

Nggak rindu jalur Segara Anak - Senaru

Rindu ciprat-ciprat di sungai di sebelah Pos 2 Kerinci

Nggak rindu jalur Shelter 2 - Shelter 3 Kerinci

Rindu lihat lintah merah merona sebesar belut - lihat doang ya

Rindu sunset Shelter 2 Kerinci

Rindu jalan-jalan ke Kalimati bawa wadah air

Nggak rindu debu musim kemaraunya jalur Cemoro Kandang Semeru

Rindu jalur ceruknya Kerinci, anyep-anyep lembap

Nggak rindu terjembap di jalur sebelum Sabana 1 Merbabu

Rindu lari-lari turun dari Sabana 2 sampe Gerbang Selo

Rindu lari-lari di antara pohon edelweiss yang tinggi-tinggi di Mandalawangi macam di video klip India

Rindu memandang Merapi dari Watu Tulis Merbabu

Rinduuuuu banget sosorodotan turun dari puncak Rinjani dan Semeru

Rindu duduk-duduk cantik di atas jalur lava sebelum Pos Padabalong

Rindu angetin kaki di Aiq Kalak

Rindu menyipit-nyipitkan mata, melihat Danau Gunung Tujuh dari puncak Kerinci

Rindu tengok kanan kiri, nyiriin puncak Gunung Agung dan puncak Gunung Tambora dari puncak Rinjani

Rindu dibikin nangis sama gunung-gunung kecil di sekitar puncak Mahameru

Rindu berdiri di puncak Triangulasi Merbabu, pengen nyobain berdiri di situ sewaktu cuaca cerah

Rindu lihat puncak Gunung Salak di kejauhan dari puncak Pangrango

Rindu 360' puncak Gede, dari mulai kawah, puncak Pangrango, sampe alun-alun Suryakencana

Rindu kabut di sekeliling puncak Salak 2 yang kelihatan dari Salak 1

Rindu berdoa di setiap puncak gunung, bersyukur atas puncak, berdoa atas keselamatan perjalanan, berdoa untuk para pendahulu; berdoa sendiri ataupun berdoa dengan teman-teman tim pendakian.

Nurul - miss every thing too much.

Saturday, August 20, 2016

Rindu 1

Sudah lama sekali gue nggak mendaki. Terakhir mendaki tahun 2013.
Apalagi pendakian ke Rinjani yang juga sudah lamaa banget rasanya *walaupun baru 5 tahun lalu* tapi masih inget banget perjuangan summit attack, kurang lebih 6 jam dan sebagian besarnya jalan sendirian. Kalo gue inget-inget lagi, kok gue sinting amat jalan sendirian di jalur puncak gunung api tertinggi kedua di Indonesia, apalagi setelah banyak kabar pendaki yang tewas di Rinjani. How did I dare to walk alone along the summit track?
Dari segi umur gue merupakan anggota paling bontot dari rombongan gue. Dari 5 orang anggota tim, cuma 2 yang berhasil sampe puncak. Sama senior yang berhasil muncak itu pun, gue nggak barengan jalannya. Start summit attack memang barengan berlima, tapi selanjutnya tergantung dari banyak sekali faktor lain. Intinya sih, mencar. Ketemu dia lagi pun sewaktu dia sudah jalan turun sedangkan gue masih ngesot-ngesot menuju puncak.
Yang gue sadari adalah, bukan cuma mental dan fisik yang memungkinkan gue berhasil nyampe puncak, tapi ada banyak hal-hal yang di luar kuasa gue. Nggak kebayang kalo sebelum mendaki gue ga mempersiapkan fisik, ga makan dulu, atau ga bawa persiapan makanan di jalan; dan ga kebayang kalo saat gue jalan sendirian itu mental gue drop, atau gue kelelahan, atau gue hilang konsentrasi, atau tetiba cuaca memburuk, atau sejuta kemungkinan mengerikan lain.
Buat yang sudah pernah mendaki Rinjani pasti tau seberapa gilanya jalanan dari Plawangan Sembalun sampe puncak Rinjani. Belum lagi anginnya kalau kita jalan di puncak musim kemarau.
Mendaki itu bukan biar kaya orang-orang, mendaki itu bukan biar punya koleksi buat di-upload ke medsos. Mendaki itu, yang dari dulu gue pahami adalah, panggilan. Kalo kita tidak dipanggil untuk mendaki, sedikit sekali makna yang bisa kita pahami dari pendakian. Dan mungkin sampai saat ini mereka belum memanggil gue untuk datangi mereka karena beberapa cita-cita lain yang sedang gue perjuangkan.
Maafkan pendaki pemula yang sok tahu ini.

Bagaimanapun gue selalu berharap gue masih punya banyak kesempatam untuk bisa medapatkan panggilan untuk mendaki lagi.

Thursday, August 18, 2016

Preambule Comeback Post

I think I must apologise for my blog and also for myself. It's been 2 years since my last post! Well, I've been writing manually, with pen and pencil, yes, on a book, yes. Just an unfinished memoar of my Wanderer Man. What kinda love-to-write person I am haha.
So, actually, I have few writings I saved on my phone. I was going to post them on my Instagram, but the caption would be too long I think. Instead, I'll post them as my comeback posts to this blog.
Now, let me think about it. Why did I skip blogging?
First, maybe, because I tend to back to pen and paper. I always love how my fingers and my pen created the letters.
Maybe, also, I found another way, a simpler way to post something. Yep, Instagram and another social media.
And maybe, well, adult cliché problems, I've got no time. My timetable has turned into 7am-6pm office hour (including the trip) then continued to 6pm-8pm teaching private class. And yeees, gaming was pretty relaxing for my hectic brain.
I just hope that I can reduce my gaming time and write more. Just like I did. About anything. I neither do fashion nor make-ups so I can not be a beautyblogger or fashionblogger whatsoever. I travel less than before (no enough free time, sadly), so I have nothing about tavel to tell. So I'm gonna bore you all, I'll write about anything. Anything that cross my mind.
Cheers!
Nurul - even she drafted her perambule comeback post two times.

Monday, September 08, 2014

Cerita tentang yang Merantau

Gegara blogwalking di beberapa blognya peserta SM-3T kemarin, jadi ingat kalau udah lama banget nggak ngeblog.
Akhir-akhir ini gue lagi kepo banget, tentang SM-3T, Raja Ampat, Kepulauan Ayau, dan Abidon. Dari mulai instagram, twitter, googling berkali-kali, blogpot, wordpress, apapun yang bisa memberikan informasi tentang hal-hal tersebut di atas. Ceritanya sih pengen tau seperti apa daerah yang akan ditinggali dia selama satu tahun ke depan, tapi kadang malah jadi sedih sendiri. Terharu sama perjuangan para guru itu melaksanakan tugasnya, dalam kondisi yang menurut gue nggak selalu mudah. Mungkin ada beberapa yang kebagian di kota yang sudah cukup maju sehingga tidak terlalu sulit untuk survive. Tapi ada juga yang ditempatkan di daerah yang betul-betul jauh dari hingar-bingar kehidupan modern; sekolah tempat mereka mengajar pun gurunya seperti antara ada dan tiada.
Sebelum gue meracau lebih jauh, gue kembalikan ke topik mengenai kemau-tau-aja-an gue untuk beberapa hal yang tadi gue sebutkan. Jadi, saat ini dia sedang bertugas, mengabdi di Papua Barat sana, tepatnya di Distrik Kepulauan Ayau, Kabupaten Raja Ampat. Awalnya dia sempat diwacanakan akan ditempatkan di Nunukan, Kaltara. Gue udah siap-siap minta dia foto pake kata 'Nunu' haha; ternyata jadilah dia menginjakkan kaki di tanah Papua, di salah satu daerah paling femes pula. 
SMP Persiapan Abidon, Kepulauan Ayau. Di sana dia ditugaskan selama kurang lebih satu tahun. Pas pertama kali dia memberi kabar kalau dia ditempatkan di Kepulauan Ayau gue agak syok, karena, you can google it (or see the map below), Kepulauan itu paling ujung atasnya Raja Ampat, di atas Waigeo tapi ke sono lagi. Jauh sekali, betul deh. Menurut teman gue yang pernah diving di Raja Ampat, Kepulauan Ayau bukan salah satu destinasi wisata, untuk menuju lokasinya pun sekira setengah hari naik kapal. Dan kabarnya sinyal di sana entah ada apa nggak, kemungkinan nggak ada. Gue menghela napas berat, beneran ini, setahun tanpa sinyal, ya ampun. Dua minggu ditinggal karantina tanpa komunikasi aja rungsing wae, ini setahun.
Alhamdulillah gue diberikan rasa penasaran; sebetulnya kayak mana kondisi di Kepulauan Ayau itu. Setelah googling-googling lagi, dan juga hasil nanya sama dia yang nanya sama orang sana, dapet beberapa info yang melegakan, tapi juga dapet info yang bikin sedih. 
Destinasi wisata, ada kok beberapa sumber yang menuliskan Kepulauan Ayau sebagai salah satu tujuan para turis. Sinyal, ada insya Allah. Perjalanannya - menurut info yang dia dapat - sekira 8-9 jam dari Sorong, bukan dari Waisai yang merupakan ibu kota Kabupaten Raja Ampat. 
Artikel lain, di sana panas sekali, mataharinya ada tujuh. Bahan makanan di sana agak sulit, harus bawa dari kota. Terakhir, ada berita yang menyebutkan bahwa seorang guru di Ayau untuk mengambil gajinya ke kota harus menghabiskan biaya 7 juta.
Meskipun begitu, apapun yang akan dia hadapi, gue yakin sepenuhnya dia pasti mampu menjalaninya dengan baik. Seperti yang selalu dia bilang sama gue, "Keadaan seperti apapun ya hadapi aja, ini memang udah tugas aku". Gue yakin dia pasti akan memberikan yang terbaik buat anak-anak di sana selama setahun dia mengabdi di sana. 
Setelah kurang lebih dua minggu di Papua, hari Sabtu 13 September 2014 nanti (two days after his 24th birthday, yes) dia berangkat menuju Kepulauan Ayau. Rekan-rekan dia yang ditempatkan di  provinsi lain sebagian besar sudah mulai mengajar semenjak tiba di lokasi penempatan, sedangkan dia sampai lokasi penempatan aja belum - kendala transportasi yang kabarnya kapal ke Ayau cuma ada satu minggu sekali.
Wish him luck, get home safely, healthily, and succeed. Can't wait to see him sekeling apa next year hihihi.

Ayau Archipelago is in red circle. Source 

Thursday, February 06, 2014

Age of Twenty Two

Biasanya saya bikin kaleidoskop di akhir tahun, kali ini saya bikin kaleidoskop di akhir umur 22 :)
Yang jelas, another great year, alhamdulillah. Akhirnya bisa memenuhi mimpi tiga puncak gunung api tertinggi yang ditutup dengan pendakian ke Kerinci di bulan Maret. Selain itu juga dikasih kesempatan merayakan ulang tahun ke-18 almarhum adik saya di puncak Merbabu dengan Ikhsan, tepat di tanggal 10 Juli 2013 dan juga dikasih kesempatan ngerasain shalat tarawih dan sahur pertama di bawah puncak Merbabu, luar biasa banget. Semoga di umur 23 nanti saya bisa menjejak di puncak-puncak gunung yang lain. Aamiin.
Puncak Kerinci, 3 Maret 2013

Puncak Triangulasi Merbabu, 10 Juli 2013
Masih berkaitan dengan pendakian, seneng banget juga akhirnya bisa menginjak tanah Sumatera, sedikit mengenal alam dan budaya Ranah Minang, untuk pertama kalinya merasakan secuil dari jalur Sumatera yang ngeri-ngeri mantap. Selain berhasil memanjakan diri dengan traveling, saya juga agak sedikit kecewa karena beberapa kali gagal berangkat; ke Rinjani (ini yang paling bikin saya sedih karena saya udah lama pengen daki Rinjani lagi), ke Bangka, ke Lampung, dan ke Makassar. Mungkin memang belum rejekinya saya.
Ngarai Sianok, 7 Maret 2013
Beralih ke bagian hidup saya yang lain. Alhamdulillah banget akhirnya saya menyelesaikan pendidikan strata 1 saya dan punya ‘tambahan’ buat nama saya hehe. Dari mulai judul proposal, draft sidang, dan skripsi final yang berbeda-beda terus; dosen sibuk dengan akreditasi; kulit kaki saya terkoyak waktu tidak sengaja menjatuhkan motor saat pengambilan data; hari Minggu bersarang di kantor kelurahan sendirian demi data penduduk. Perjuangan yang kadang sulit kadang mudah. Meskipun lebih banyak sulitnya, buat saya banyak banget pelajaran yang saya dapatkan selama proses penyelesaian skripsi saya.
tiga serangkai, judulnya beda semua :))
Tahun ini juga sahabat saya akhirnya nikaah hihi. Terharu banget, meskipun telat nggak sempat lihat akad nikah *sahabat macam apa*. Dan sekarang saya lagi ikutan menanti kelahiran ponakan baru dari Resti :3
5 Mei 2013
Akhir tahun 2013 juga saya sekeluarga, dengan Ikhsan, Mamah, dan Bapak akhirnya jalan-jalan berempat lagi, meskipun cuma satu hari dan cuma ke Sukabumi. Entah kapan terakhir kami jalan yang betul-betul hanya berempat.
Sukabumi, 31 Desember 2013
Akhir tahun juga, saya disibukkan dengan mem-back up pelaksanaan Pelantikan Pasmalima Angkatan XXVIII. Sempat menemani panitia survey dua kali ke Cidahu dan ke Cibatok, dengan menjadi satu-satunya alumni yang mendampingi. Saat pelaksanaan pun Alhamdulillah bisa hadir full dari awal sampai selesai. Yaa berhubung saya lagi punya waktu mengapa tidak, belum tentu tahun depan saya bisa hadir pelantikan. Kebetulan Ikhsan jadi peserta dan saya nggak nyangka dia dapat nomor PAL pertama hehe, congrats my baby brother :)
Gunung Salak, 29 Desember 2013
Dan dua momen terakhir sebelum umur saya menginjak 23 tahun adalah momen-momen yang cukup manis *halah*. Jadi, setelah berteman hampir 8 tahun, setelah sering menemani acara seperti PD dan pelantikan bareng, setelah sering mendaki bareng; tetiba senior saya yang paling disayang sama teman-teman di Pasmalima ini jadi (meminjam istilahnya Puji) kekasih hati hahaha.
Terakhir, wisuda. Akhirnya resmi seresmi-resminya jadi Sarjana Sains :) Alhamdulillah. Meskipun Muba nggak bisa nemenin (karena dia ditakdirkan sidang di tanggal yang sama dengan saya wisuda, hiks), kedatangan Muba dan Taruli ke rumah sorenya amat sangat menghapuskan kekecewaan saya nggak bisa nemenin Muba sidang sekaligus Muba nggak bisa nemenin saya wisuda.
22 Januari 2014 :)
*harus banget foto pake slayer, saya yang minta hehe*


Banyak banget yang terjadi di tahun 2013 dan di umur saya yang ke-22. Semoga di usia mendatang saya lebih banyak memperbaiki diri, lebih produktif, ibadahnya ditingkatkan lagi, dan bisa mulai merintis mewujudkan cita-cita satu per satu. Aamiin. Alhamdulillah, thank You for the superb age of 22 :)

Saturday, December 07, 2013

Not Just the TV Show

Long time no write, long time no write hehe. Sibuk? Awalnya sih iya sibuk nulis masterpiece yang nggak terlalu piece of master banget, sebut saja dia skripsi. Kemudian skripsi selesai, masih sibuk juga, sibuk mikir hari ini mau ngapain, besok mau ngapain, lusa mau ngapain hehe.
Sambil menunggu kegiatan, akhir-akhir ini saya rajin nonton salah satu program di stasiun televisi yang tahun ini baru mengudara. Saya suka banget sama program ini, cukup berbeda dibandingkan program sejenisnya yang sudah ada sebelumnya, ada beberapa keunikan.
Unik yang pertama, saya rasa ini satu-satunya program di jenisnya yang menggunakan narator seorang native dari daerah yang menjadi objek di setiap episodenya. Si narator ini bisa merupakan Duta Pariwisata daerah tersebut, jurnalis, fotografer, atau bahkan penduduk asli suatu kampung di pedalaman, suku aslinya. Buat saya sih ini menarik banget, saya jadi belajar berbagai macam logat, cara bicara, aksen, dan bahasa daerah hampir se-Indonesia. Dan juga, somehow, penyampaian konten dan materinya jadi lebih mengena karena orang situnya asli yang ngasih tau.
Unik juga di materi yang di-deliver­ oleh naratornya itu. Biasanya kan kalau acara sejenis lebih fokus menonjolkan keindahan alam di daerah tersebut, atau mungkin kadang budayanya juga sih. Tapi kalau di acara ini, yang saya perhatikan, sering banget yang diangkat itu bukan cerita-cerita yang pada umumnya sudah diketahui orang banyak. Contohnya pengolahan gula, kopi, bahkan sampai produksi shuttlecock yang ternyata mendunia (daerahnya daerah tempat saya praktik lapang, sebelumnya saya nggak pernah tau kalau daerah ini memproduksi shuttlecock).
Unik berikutnya adalah teknik pengambilan gambarnya. Saya bukan orang yang ngerti kamera, videografi, dan sebagainya, tapi saya sering banget terkagum-kagum sama sudut pengambilan gambar acara ini. Saya sering membahas ini sama adik saya, dia juga setuju. Kami ngerasa sudut pengambilan gambarnya kece banget, beda sama acara lain. Contohnya waktu episode yang menayangkan stingless jellyfish. Aah itu saya gemes banget sama ubur-uburnya, gemes banget banget! Di lain kesempatan saya pernah juga nonton acara sejenis yang meliput si ubur-ubur ini, adik saya nonton juga. Kami langsung komentar, kok perasaan beda ya, liat tayangan yang ini nggak bikin gemes gitu haha.
Selain unik, gegara acara ini saya juga jadi tau, banyak kok di luar sana orang-orang yang setia mempertahankan budaya daerahnya. Dan saya SALUT banget sama mereka. Dari ujung paling barat sampai ujung paling timur, selalu ada mereka yang melakukan pelestarian budaya daerah mereka dengan sepenuh hati. Dari yang belajar tarian daerah yang sulit sampai yang berbahaya, yang pakai topeng seberat hampir 50kg (nggak paham sama yang ini kuat banget), juga para sesepuh atau juga sama keluarganya yang konsisten menjaga warisan-warisan budaya daerahnya – golek, senjata tradisional, topeng reog, kain tenun, alat musik tradisional, dan sebagainya. Bukan cuma menjaga, tapi konsisten menghasilkan karya-karya budaya itu. Keren banget lah.
Saya sih cuma berharap acara ini juga konsisten memberikan pengetahuan-pengetahuan baru yang saya rasa belum banyak orang yang tau, di luar apa yang sudah mereka tau sebelumnya. Semoga lebih banyak lagi cerita-cerita dari pelosok Indonesia ini yang terdengar dan jadi pengetahuan baru buat saya – ya buat penonton yang lain juga tentunya. Baru kali ini rasanya saya suka suatu program di tivi sampai saya tulis di blog kan ya? hehehe. Sebelum terakhir, CMIIW ya kalau ada salah-salah info.
Terakhir, seperti nama acara sekaligus jargonnya, saya mau ikutan ngucapin biarpun nggak masuk tipi haha.



p.s. kalau liat playlist-nya di YouTube, klik link di atas aja :D

Saturday, September 14, 2013

Happy Pasmalima Day!

And also,

HAPPY 27th BIRTHDAY PASMALIMA
September 14th 1986 - September 14th 2013



Saturday, August 24, 2013

Bukan Kontradiksi

Pernah kah kau disugestikan untuk memiliki mimpi? Mimpi setinggi-tingginya, mimpi sebanyak-banyaknya. Kemudian beraksilah! Jangan cuma mimpi! Bentuk misi untuk mencapai visi! Kemudian si mimpi tidak hanya menjadi mimpi belaka, melainkan menjadi sebuah cita-cita.
Si ini berkata pada saat usianya10 tahun bahwa suatu hari ia akan berdiri di atas karpet merah Hollywood. Si itu berkata pada saat ia susah bahwa suatu hari nanti ia akan menciptakan penafkahan bagi orang-orang. Kemudian kita disuruh melihat betapa suksesnya mereka, betapa berhasilnya mereka, karena mereka punya mimpi.
Tapi sebetulnya apa? Mimpi itu layaknya penyakit kronis. Yang menjalar, bermula pada satu bagian, kemudian menggerogoti keseluruhan bagian. Selesai mimpi yang satu, terwujud mimpi yang dua, kemudian muncul mimpi yang tiga dan yang empat dan yang lima dan yang begitu banyak sampai papan mimpimu penuh dan kau lelah menghitungnya.
Namun memang itulah esensinya. Mimpi, cita-cita, dan harapan yang membuat kita hidup. Membuat kita bertahan. Karena kita tahu, ada si 'yang begitu banyak sampai papan mimpimu penuh dan kau lelah menghitungnya' yang harus kita raih.

-Ditulis sambil meracau di tengah hari yang panas

Sunday, July 14, 2013

Pendakian Merbabu Part 1 : Boarding

Subhanallah. Cuma itu yang bisa menggambarkan secara keseluruhan pedakian Merbabu kemarin hahaha.
Berawal dari kenekatan gue berangkat sendirian ke Stasiun Pasar Senen buat nyari tiket dan kenekatan ngambil tiket berangkat tanggal 7 malam (karena memang dapetnya tanggal segitu) padahal kabarnya awal puasa mulai tanggal 9 dan kemudian berangkatlah gue dan Ikhsan ke Yogyakarta.

Berangkat
Hari Minggu sore, tanggal 7 Juli, setelah shalat Ashar kami berangkat dari rumah, sekitar jam 3:45. Sampai di Stasiun Bogor jam 4:35. Beli tiket Commuter Line tujuan Stasiun Cikini seharga Rp4 000. Kami berangkat jam 5:10 dan sampai di Stasiun Cikini jam 6:20. Jakarta sudah menggelap, begitu turun dari tangga stasiun, kami segera belok ke kiri untuk naik metromini nomor 17. Jalanan Jakarta yang kami lalui magrib itu tidak terlalu ramai, mungkin memang bukan jalur-jalur padat, mungkin, gue kan jarang berkeliaran di ibu kota hehe.
foto sebelum berangkat sama Bapak & Mama
Kami turun dari metromini di depan Terminal Pasar Senen, lanjut jalan kaki sekitar 5-10 menit ke Stasiun Pasar Senen. Jam 7 lewat beberapa detik, kami sampai di stasiun. Kereta kami memang baru berangkat jam 10 malam, nama keretanya Progo, harga tiketnya Rp90 000, tapi gue menimbang untuk berangkat agak awal karena mau menukarkan tiket pulang yang gue pesan lewat internet. Nah, gue lupa loket penukarannya itu tutup pukul 19:00 atau 22:00, soalnya ada dua jam tutup berbeda untuk beberapa loket. Untungnya ternyata loket penukaran tiket yang dibeli online / lewat minimart / lewat pos dan sebagainya tutup pukul 22:00, sedangkan yang tutup pukul 19:00 itu loket pembelian langsung untuk pemesananan tiket keberangkatan hingga H-90.
Setelah dapat tiket untuk pulang, yaitu tiket Gaya Baru Malam Selatan yang berangkat dari Stasiun Lempuyangan jam 17:09 tanggal 10 nanti, seharga Rp110 000, kami shalat di musola yang sempit banget. Kami shalat gantian karena sambil nungguin barang. Selesai shalat, waktu baru menunjukkan jam setengah 8 lewat, masih dua jam lebih kami harus nunggu kereta. Kami duduk di depan minimart di dekat pintu utara stasiun, beli minum tambahan, camilan, sama antimo.
Ikhsan agak masuk angin, kami memang belum sempat makan malam, bawa bekal sih, tapi belum dimakan, rencana mau makan begitu sudah duduk di kereta. Jam 9:40 akhirnya kami jalan menuju peron untuk naik ke rangkaian kereta. Teman perjalanan kami saat itu adalah tim hoki UGM yang baru selesai kompetisi hoki di daerah Cikini. Empat orang yang duduk sama kami karena dapetnya memang di bangku yang 3-3, hadap-hadapan jadi bareng berenam.
Kereta berangkat jam 10 lewat satu menit. Awal perjalanan mereka rame banget, ketawa-ketawa sambil becandain salah satu teman mereka yang sepertinya memang sering jadi bahan cengan, namanya Ega. Gue ngobrol-ngobrol juga sama mereka, kebetulan Ega ini satu jurusan sama Farhan atau panggil saja dia Buluk, sepupu gue yang nanti bakal jemput dan anterin gue sama Ikhsan ke Merbabu. Rata-rata dari mereka angkatan 2011, cuma satu orang yang angkatan 2009 sama kayak gue, jadi merasa tua dan sudah kedaluarsa untuk jadi mahasiswa pfft hahaha.
Sekira jam 11, baru sampe Cikampek, Ikhsan minta plastik kemudian dia muntah gegara telat makan, ckck. Padahal tadi sebelum kereta berangkat dia sempet makan walaupun sedikit. Selesai muntah dia langsung segar dan sehat kembali. Kereta berhenti di beberapa stasiun, salah satunya di Stasiun Cirebon Prujakan, lumayan lama, hampir 40 menit.

Yogyakarta
Tanggal 8 Juli, jam 6:26 yang sebenarnya merupakan jadwal kereta sampai di Stasiun Lempuyangan, kami baru masuk wilayah Yogyakarta. Gerbong kami sudah lumayan sepi, tim hoki UGM yang duduk bareng kami sudah pindah duduk ke teman-temannya yang lain di gerbong yang sama. Gue sama Ikhsan langsung selonjor-selonjor kaki sambil memandangi matahari yang mulai meninggi di timur sana. Ada satu pasangan yang kece menyambut kami masuk Yogya, yups, Merapi dan Merbabu di kejauhan :3
Merbabu dan Merapi
Jam 7 kurang sedikit kami lewati Stasiun Tugu, gue telepon Buluk ngabarin kalau kami sudah sampai. Pas gue telepon dia baru bangun haha. Kami sampai di Stasiun Lempuyangan jam 7 lebih sedikit. Buluk sama Aul, temannya, jemput kami sekitar jam 7:45.
Kami sampai di sekret Satu Bumi, penggiat alamnya Fakultas Teknik UGM, sekitar jam 8 lewat. Di depan sekret lagi pada rame, banyak teman-temannya Buluk. Kami kenalan dan ngobrol-ngobrol. Salah satu temannya Buluk, namanya Yayan, nanya ke Ikhsan, “Namanya siapa?” Ikhsan kayaknya masih pelongo gitu, dia menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti “BAT”. Semua orang langsung mengira nama dia Bat dan semua orang pun manggil dia Bat haha. Mereka juga banyak yang ngira kalau gue adeknya Ikhsan dan ngira gue masih sekolah haha. Setelah beberapa kali orang yang nanya tingkat pendidikan gue, Buluk selalu langsung nyamber, “Heh, itu sepupu gue lagi skripsian, bukan anak sekolahan!” hahaha.
Gue sama Buluk ngomongin soal rencana pendakian. Dia ngajak satu temennya, namanya Tebe, buat ikut menemani kami mendaki. Rencananya kami mau lewat jalur Selo di Boyolali, berangkat nanti malam, lama perjalanan ke sana sekitar 2 jam. Menurut Buluk, pos pendakian Merbabu yang paling mudah aksesnya dan jalur pendakiannya juga lumayan enak itu dari Selo. Kalau dari yang gue baca-baca di blog orang sih katanya jalur Wekas itu paling pendek. Nah, Buluk bilang jalur Wekas itu start mendakinya memang sudah tinggi jadi memang paling pendek, tapi artinya akses ke pos pendakiannya lumayan sulit karena menanjaknya lumayan parah.
Sekitar jam 2 siang Tebe datang ke sekret. Tebe mengiyakan ajakan Buluk, asal berangkat setelah tarawih karena dia mulai puasa tanggal 9, sedangkan kami bertiga masih nunggu pengumuman pemerintah. Jadi rencana pun fix, berangkat setelah tarawih, sorenya kami mau belanja logistik dulu.
Sepupu gue yang satu ini, dari dulu memang jago tidur. Nggak cuma satu kali dia naik angkot terus tujuannya kelewat gegara tidur. Sama seperti sore itu, dia susah banget dibangunin buat belanja logistik. Dari rencana mau belanja sore, akhirnya gue sama dia baru belanja jam setengah 7 malam sambil nunggu Tebe selesai tarawih.
Buluk bilang dia kalau belanja makanan pasti banyak, segala macam makanan pengen dibeli. Belanja logistik kali itu kami menghabiskan sekitar Rp150 000, beli beras, air minum berliter-liter, spageti, saus spageti, nugget, cokelat seduh, oat milk, cabai, bawang, dan masih banyak lagi.
Sepulang belanja, televisi pun mengabarkan kalau menurut pemerintah, puasa mulai tanggal 10. Artinya kami bakal sahur pertama di gunung, gue nggak berani mikirin bakal gimana jadinya meskipun sebetulnya udah siap mental kalau harus puasa di gunung.
Begitu sampai di sekret lagi, kami langsung packing. Ikhsan pake tas pinjaman, beberapa barang kami tinggal di sekret supaya tidak memberatkan, karena nggak bakal dipakai juga. Jam 10:15 kami berangkat dari sekret, mampir sebentar ke kostan Aul buat ngambil sepatu yang mau dipakai Ikhsan, terus mampir buat makan malam. Kata Buluk sama Tebe sih nama tempatnya ‘burjo-burjo’ gitu, porsinya banyak banget, harganya kisaran Rp4 500-Rp6 500 (kalau nggak salah).

Menuju Selo, Boyolali
Jam 10:45, selesai makan malam, akhirnya kami berangkat menuju Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Menurut Buluk sih, transport dari Yogya ke Selo jarang, apalagi untuk ke pos pendakian Merapi / Merbabu. Kami malam itu berangkat dengan dua motor pinjaman dari Sentot sama Gale (sependengaran gue sih Gale hehe). Buluk bonceng Ikhsan pakai motor Sentot, sedangkan gue dibonceng sama Tebe. Bensin dua motor menghabiskan sekitar Rp50 000.
Perjalanan Yogya-Selo luar biasa sekali. Dingin, gelap, berkabut, menanjak, pegel, jalan berlubang, dan sebagainya. Dingin dan gelap jelas karena udah malam. Pegel karena jauh dan lama, ditambah pula motor yang dipakai Tebe sama gue, injekan buat penumpangnya cuma ada yang kanan, jadi kaki kiri gue melayang-layang selama perjalanan haha. Di tengah perjalanan, kami sempat istirahat di pertigaan gegara motor yang dipake Buluk agak bermasalah. Sambil istirahat, Ikhsan ganti sepatu yang dipinjam dari Aul. Setelah dia rasa-rasa dan dilihat ulang, ternyata dua sepatu yang dipinjamkan Aul itu berbeda, bahkan beda merk, beda warna, dan beda ukuran; yang kanan merk Karrimor warna biru, yang kiri merk Eiger warna merah haha.
Perjalanan kami lanjut setelah motornya Sentot disembur-sembur pakai air minum. Sekitar beberapa ratus meter dari pertigaan, kami mulai bisa lihat Merapi di kegelapan, di sebelah kanan jalanan yang kami lalui, gagah sekali. Tebe juga menunjukkan jalan menuju pos pendakian Merapi, belokannya di kanan dari arah kami datang. Sekitar 100-200 meter dari belokan ke Merapi, kami belok ke kiri, jalan menuju pos pendakian Merbabu di Selo.
Perjalanan semenjak dari pertigaan itu menanjak terus-terus-terus, lebih parah menanjaknya dari belokan ke pos pendakian Merbabu, sampai akhirnya sewaktu lagi mengarungi suatu tanjakan, motor Sentot mati total dan nggak bisa nyala. Motor mati itu digiring Buluk ke tempat Tebe dan gue nunggu. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya gue duluan diantar Tebe ke basecamp / pos pendakian, selanjutnya liat ntar.
Gue sampe basecamp Pak Parman di Dukuh Genting, Desa Tarubatang, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali jam setengah 2 pagi. Tebe balik lagi buat jemput Ikhsan. Gue deg-degan nunggu mereka balik lagi, jalannya itu lho, ngeri banget, banyak bagian curam, bukan cuma menanjak biasa. Salut deh gue sama Tebe, strong woman banget!
basecamp
Setelah menunggu sekira 10 menit, gue melihat kilatan cahaya lampu motor dari bawah dan ada dua! Alhamdulillah, lega banget hahaha. Rencana kami untuk naik malam itu juga terpaksa digagalkan. Pertama karena kami masih deg-degan sama motor yang kami pikir nggak bakal bisa naik sampai basecamp, kedua pos pendaftarannya juga masih tutup, bahkan mau masuk ke ruang tempat berteduh aja dikunci. Akhirnya kami tidur di teras, gue meringkuk di salah satu kursi, Ikhsan tidur duduk di kursi lain, Tebe tidur selonjoran di kursi yang agak panjang, Buluk tidur di lantai beralaskan matras berselimutkan flysheet.

Pagi di Pos Pendakian Selo

Matahari mengalah demi kabut yang menutupi hampir sepanjang jalan aspal di depan pos pendakian. Gue sempat terbangun beberapa kali dan setiap kali terbangun pasti bergidik kedinginan. Buluk seperti biasa susah dibangunkan dari tidurnya dan sudah bangun pun berkali-kali tidur lagi. Setelah menunggu ini-itu, akhirnya jam 8:20 kami start pendakian setelah berdoa dipimpin yang paling muda, Ikhsan. Sudah siang memang, tapi kabut belum juga menguap. 
foto sebelum berangkat

Pendakian Merbabu Part 2 : Ngebut!

Pendakian
Trek awal naik-naik sedikit, kaya membelah lembah rerumputan, terus masuk hutan yang lumayan rapat tapi nggak becek. Beberapa pendakian terakhir gue adalah anggota tim yang paling muda, nah kali ini gue yang paling tua – sekaligus yang paling lambat jalannya haha. Kami sampai di Pos 1 (Dok Malang) jam 9:35, istirahat sekitar 10 menit, lanjut jalan lagi. Nggak jauh dari Pos 1, Tebe sama Buluk nunjukkin jalan shortcut yang tembus langsung ke Watu Tulis, jalannya naik turun bukit tapi pemandangannya keren kata mereka.
gerbang pendakian
Pos 1
Sebelum Pos 2, kami sempat istirahat di sebuah pertigaan dengan plang penunjuk ke Pos 2 yang dari situ berjarak 1 km. Buluk jahit tas dulu di situ. Kami cabut lagi jam 10:46. Sampai di Pos 2 (Pandean) sekitar jam 11:15, not bad lah, 1 km menanjak ditempuh setengah jam hehe. Di pos ini kami bertemu dengan satu rombongan yang juga berempat. Mereka naik lebih dulu dari kami, sekitar jam 12 tengah malam tadi. Di situ kami ngobrol-ngobrol dulu, mereka rombongan UPN yang baru turun dari Sindoro dua hari yang lalu dan langsung naik lagi ke Merbabu, ckck.
pertigaan sebelum Pos 2
Pos 2
Kami berangkat dari Pos 2 sekitar setengah jam setelah kami sampai di sana. Perjalanan kami lanjut, lepas dari Pos 2, masih trek hutan rapat. Trek dilanjut ke hutan terbuka, Tebe metik arbei yang pohonnya banyak tumbuh di sana, gue sama Ikhsan nyicip. Trek yang lumayan terbuka ini juga lumayan melelahkan. Gue memandangi trek sewaktu jalur mulai terjal, mirip jalanan dari Padabalong, Pos 3 Rinjani hoho.
sedikit trek menuju Watu Tulis
Kami sampai di Watu Tulis sekitar jam 12:40. Di sana kami masak makan siang untuk bertiga dilanjut shalat. Rombongan UPN tadi datang sewaktu gue selesai shalat. Dari Watu Tulis, hijaunya Merbabu terasa sekali, meskipun kabut masih mendominasi pemandangan di Watu Tulis. Begitu kabut tersapu, dua bukit hijau menampakkan diri, dan tentunya si gagah yang kami lihat dari jalan tengah malam tadi, Merapi memamerkan lekukan punggunannya :)
Merapi :3
hijau hijau hijau
Selesai packing dan membersihkan peralatan bekas makan, kami lanjut perjalanan jam 2:15. Rencana kami hari itu adalah nge-camp di sabana 2 lewat dikit, katanya sih tempat biasa Satu Bumi nge-camp, kemudian lanjut ke puncak besok pagi.
Dari  Watu Tulis jalannya makin mantap, mirip-mirip bukit penyesalannya Rinjani, terus dilanjut ke trek yang menanjak-nanjak parah. Gue sempat jatuh telungkup waktu lagi manjat tanah gegara kehilangan pijakan, ckck, dasar nenek haha. Selesai trek tanah yang luar biasa itu kami sempat istirahat di tempat yang luamyan lapang, Buluk tidur lagi.
Buluk tidur
sempat cerah
Kami sampai di Sabana 1 jam 3:20 setelah menjejak jalan menanjak yang nggak ada bonusnya. Angin dan kabut semakin menjadi di padang yang luas itu. Bukit-bukit tinggi kehijauan ini sekali lagi mengingatkan gue akan Rinjani, bedanya sepanjang sabana 1 Merbabu jalannya lempeng alias datar, sedangkan Rinjani, emm Rinjani emang ada datarnya ya? Cuma pas jembatan doang, hahaha.
Sabana 1
Dari trek sabana 1 yang masih datar kemudian dilanjut ke jalan yang menanjak. Sewaktu lagi menanjak, kami bertemu dengan rombongan mahasiswa kehutanan UGM yang lagi jalan turun. Tebe sama Buluk ngobrol-ngobrol sama mereka yang ternyata sebagian dari mereka kemarin arung jeram bareng Satu Bumi.
jalur menuju sabana 2
Kami melintasi Sabana 2 sekitar jam 4 sore, empat orang rombongan UPN lagi santai di antara kabut di seberang tanda Sabana 2. Kami menyapa-nyapa lagi terus lanjut jalan ke tempat camp. Sekitar 5 menit jalan dari sabana 2, kami sampai di tempat camp yang dimaksud Buluk dan Tebe. Sebetulnya muncak hari itu pun bisa kami lakukan, karena perjalanan ke puncak dari tempat kami camp cuma 1 jam, rombongan UPN itu mau muncak saat itu juga, dari Pos 2 mereka cuma bawa dua daypack. Nah, kami memutuskan nge-camp karena Tebe mau buka puasa pertama – di gunung.
Sabana 2
Kami langsung dirikan tenda dan rapikan barang lalu kami tidur nunggu magrib haha. Jam 6 kami bangun, mulai masak dan shalat Maghrib secara bergantian. Kami masak spageti dengan saus instan hot tuna. Selesai makan, mules-mules semua haha. Selesai makan kami nyantai-nyantai dulu, Buluk hampir tidur lagi sih, tapi jam 9 kami mau shalat tarawih. Gue bilang kelamaan nunggu jam 9, nanti keburu tidur, akhirnya jam 8:45 kami mulai bergerak, atur flysheet buat alas shalat, wudhu terus atur posisi.
Gue nggak pernah membayangkan bakal shalat tarawih pertama di gunung, di ketinggian sekitar 2700 mdpl. Rasanya menakjubkan banget :D Shalat wajib di gunung aja rasanya istimewa banget, apalagi shalat tarawih. Kalau menurut kami sih, naik gunung edisi tafakur alam hehe.
Selesai shalat jam 9:30, kami masak nasi untuk sahur besok pagi. Setengah jam kemudian kami tidur setelah pasang alarm jam 2 pagi untuk masak sahur.

Sahur Pertama di Gunung
Jam 2:15 tanggal 10 Juli, alarm jam tangan Ikhsan dan handphone-nya Tebe bunyi, nggak ada yang langsung bergerak. Gue masih ngantuk banget karena sedari malam cuma bisa tidur sedikit-sedikit. Biasanya kalau dengar alarm gue kan langsung gerak, kali itu nggak kuat lah. Tebe bergerak dari ujung tenda ke pintu tenda buat masak, nggak lama Tebe masak, Buluk bangun, gue lanjut tidur sampai jam setengah empat hehe.
Jam 4 kurang 15 menit kami mulai makan sahur. Menu sahur kami adalah nasi, nugget, telur ceplok, dan supkrim jagung pakai tofu. Meskipun nuggetnya keras, meskipun telur ceploknya nggak welldone, meskipun nasi masih ada yang bersisa beras sedikit, tapi sahur kami Alhamdulillah kece banget haha.
Selesai sahur kami shalat Subuh di antara angin subuh yang membekukan. Rencana awal, setelah shalat kami mau langsung muncak, karena nanti sore gue sama Ikhsan udah harus ngejar kereta ke Lempuyangan. Tapi ya seperti biasa, lagi dan lagi, harus tiduran dulu, janjinya setengah 6 berangkat.
Gue time keeper, tiduran sambil megangin jam tangan dan hampir saja ikut tertidur haha. Setelah tertidur sekira 5 menit, gue terbangun mendadak, refleks lihat jam, 5:32. Gue langsung menggebah-gebah Buluk sama Ikhsan. Buluk langsung nyahut, “Iya yuk berangkat sekarang!”

Summit Attack
Kurang lebih jam 5:40, kami mulai jalan. Kami berangkat muncak hanya bertiga, Tebe menunggu di tenda biar bisa beres-beres. Jadi pas kami balik ke tenda, kami bisa cepat mulai jalan turun. Kabut masih menemani perjalanan awal menuju puncak Merbabu, namun tidak setebal kemarin.
Sekira jam 6 pagi, di kanan kami, semburat jingga muda mulai terlihat, sunrise! Puncak Syarif di belakang kami juga masih jelas terlihat, hijau. Selepas sunrise, kabut kejam mulai turun lagi. Dinginnya nggak santai. Buluk jalan paling depan sambil sarungan yang kayak ninja-ninjaan itu, gue jalan di belakang Buluk pakai sarung tangan, Ikhsan jalan paling belakang konsisten menyembunyikan tangannya di kantung jaket.
sunrise menuju 3142
Gue mulai khawatir kami – terutama gue – jalan terlalu lama, saat itu sudah jam 6:20, seharusnya kami sudah hampir sampai, tapi gue belum lihat tanda-tanda jalan menanjak akan berakhir.
Syukur, 5 menit setelah itu, jalanan mulai berbentuk selokan kecil yang hanya cukup untuk diinjak satu kaki bergantian. Gue lihat ke arah depan, Buluk yang biasanya selalu menunggu kalau jarak dia dan gue terlalu jauh, sudah tidak terlihat. Gue lanjut jalan, menyusuri selokan kecil itu. Di atas, terlihat tanjakan berakhir.
Gue lihat Buluk melambai di atas batu di arah seberang gue muncul. Tanah lapang, beberapa batu berserakan, ada satu penanda seperti penanda pos-pos di bawah. Gue belum yakin itu puncak, gue mendekati penanda itu.
TN Gunung Merbabu – Puncak Triangulasi
my seventh summit
Gue tersenyum, jam 6:30 tepat. Gue menengok ke belakang, kepala Ikhsan muncul, gue teriak, “Poci! Yeay!” Ikhsan mengangguk dengan senyuman kecil di wajahnya.
Alhamdulillah, my seventh summit, Mount Merbabu, 3142 m asl! :D
Ini puncak keduanya Ikhsan sekaligus pertama kalinya ia berdiri di atas ketinggian 3000 mdpl. Kami berdua foto-foto – Buluk tidur lagi. Sayang kabutnya betul-betul nggak mau kompromi, selama 15 menit kami berdiri di puncak, cuma dua kali matahari muncul di balik kabut, itu pun cuma berbetuk bulatan kecil di atas puncak Kenteng Songo.
Poci's second peak
Karena cerah tidak kunjung muncul, gue memutuskan untuk tidak berlama-lama di puncak. Pukul 6:45 kami turun dari puncak ditemani kabut yang masih mengurung kami. Turun dari puncak Merbabu sedikit mengingatkan gue sewaktu turun dari puncak Kerinci. Kerudung dan bulu mata berembun saking parahnya kabut dan dinginnya udara.
puncak kali ini bertepatan dengan ulang tahun
adik gue yang merupakan kakaknya Ikhsan :)
Jam 7:20 gue sampai lagi di tenda, Buluk sudah sampai duluan, Ikhsan di belakang gue, dan Tebe baru bangun. Kami langsung bersih-bersih alat makan bekas sahur, gulung-gulung sleeping bag, dan packing.
Jam setengah 9 kami baru selesai packing, tinggal tenda yang belum masuk ke carrier Buluk. Jam 8:50 kami sudah siap dan rapi, estimasi sampai di basecamp paling telat jam 12 siang. Kami harus sampai di bawah secepat mungkin karena rencananya motor Sentot yang pingsan kemarin mau diganti oli dulu. Pastinya bakal butuh, waktu sedangkan perjalanan Boyolali-Yogya kurang lebih dua jam dan jam 5 sore gue sama Ikhsan harus sudah duduk manis menunggu kereta di Stasiun Lempuyangan.
Setelah berdoa dipimpin Ikhsan lagi, kami mulai jalan, ngebut. Nggak sampai 1 jam kami mendarat di Watu Tulis, yaitu jam 9:40, padahal kemarin Watu Tulis-Sabana 2 saja 2 jam lebih. Sampai di Pos 2 jam 10:00, rombongan UPN masih nyantai-nyantai di dalam tenda mereka. Kami lanjut jalan ngebut sampai di pertigaan Pos 2 jam 10:15, dan sampai di Pos 1 jam 10:37. Jalan udah nggak keruan, lompat sana-sini, lari sana-sini, jatuh sana-sini juga.
Sekira jam 11:10 gue ngeh kami udah masuk ke jalur awal yang nampak seperti membelah lembah rerumputan. Gue yang udah nggak tahan pegelnya kaki, merentangkan tangan ke belakang, mengunci posisi tas biar nggak loncat-loncat, terus lari ngejar Buluk yang jalan paling depan. Ikhsan sama Tebe lumayan di belakang gue.
Gue sampai di basecamp pendakian lagi sekitar jam 11:20. Yes, hanya 2 jam setengah saja dari Sabana 2 sampai basecamp, padahal kalau yang gue baca di blog orang tentang pendakian dia di Merbabu, dia turun dari Puncak Triangulasi sampai basecamp sekitar 6 jam -___-
Buluk langsung keluarin motor dari tempat penitipan di dalam basecamp. Tanpa menunggu apapun dan mengganti pakaian apapun, kami langsung turun ke kota jam 11:40. Lima menit kemudian kami ketemu bengkel pertama, kami minggir dulu buat ganti oli. Anehnya ganti olinya cepat sekali, nggak ada 10 menit udah selesai.

Pulang ke Yogya lalu Jakarta lalu Bogor
Tepat saat adzan Zuhur berkumandang, kami melanjutkan perjalanan ke Yogya. Berhubung pakaian masih kotor dari atas sampai bawah, kami memutuskan shalat di Yogya setelah bersih-bersih. Sepanjang perjalanan, gue fokus ngeliatin satu objek yang ketje luar biasa, Merapi hehehe.
hello Merapi, i'll come to ya later :3
Sebelum pertigaan tempat kami istirahat malam sebelumnya, motor yang ditumpangi Buluk dan Ikhsan sempat jatuh di dekat satu jembatan, gue panik lihat mereka. Ikhsan kakinya tertimpa motor, Buluk juga bahunya luka. Rupanya gegara sewaktu belokan menanjak, ada motor dari arah berlawanan, Buluk mengerem motor, sayangnya ada pasir di jalannya, jadilah motornya oleng dan jatuh.
Kami melanjutkan perjalanan yang diwarnai dengan motor yang ditumpangi Tebe dan gue mati nggak bisa nyala sepanjang kurang lebih 1 km (untung jalannya menurun, jadi tinggal gelosor), hujan besar yang mendadak turun, dan melewati jembatan sempit dan mengerikan pas banget angin sedang bertiup-tiup. Seru dan ngeri haha. Jam 1 siang Tebe dan gue sudah masuk DIY lagi, Buluk dan Ikhsan sudah di depan. Ternyata di Yogya kering kerontang belum hujan, sedangkan kami basah kuyup.
Kami sampai di sekret jam 2 siang dengan celana dan baju yang bahkan sudah setengah kering. Gue langsung beberes dan packing sambil nunggu Ikhsan mandi dan shalat terus kami gantian mandi. Selesai mandi masih sempat selonjoran dulu di sekret.
Jam 5 kurang kami diantar Buluk dan Eko ke Stasiun Lempuyangan. Nggak lama kami sampai stasiun, sebuah rangkaian kereta datang. Pengumuman di speaker stasiun nggak jelas menginfokan apa; nanya ke petugas jawabannya nggak nyambung, ditanya GBM kapan datang malah jawab di jalur 1. Kami berdua duduk di bangku stasiun. Gue takut kereta yang berdiam di depan kami ini ternyata adalah kereta kami, gue coba cari petugas lain terus nanya. Dan ternyata memang itu kereta kami -___-
Lari-lari gue balik ke tempat Ikhsan nunggu terus langsung naik ke gerbong terdekat. Begitu kami naik, dua detik kemudian kereta bergerak, fiuh. Kami segera bergerak menuju gerbong kami. Nggak lama kereta berangkat dari Lempuyangan, adzan magrib berkumandang, kami buka puasa pertama di kereta hehe.
Selama di kereta kami kebanyakan tidur, Ikhsan sih yang lebih banyak tidur. Kaki gue sampai kesemutan berkali-kali dijadikan alas tidur Ikhsan. Lewat dari Stasiun Prupuk, Tegal, hujan turun deras dan lama bersambung sampai entah di mana. Kereta kami melaju cepat sekali, malah kalau menurut gue agak ugal-ugalan -___- terasa sekali guncangannya. Sewaktu pulang dari Semeru gue naik kereta ini dan duduk di posisi yang mirip dengan ini pula, yaitu dekat perbatasan antargerbong, tapi gue masih bisa tidur pulas.
Kami sampai di Stasiun Jakarta Kota on time sekali, sekitar 2:15 pagi. Commuter Line menuju Bogor baru ada jam 5:57, artinya kami harus menunggu kurang lebih 4 jam untuk bisa pulang ke Bogor. Kami sahur popmi yang dibeli di stasiun dan susu ultra yang dibeli di Yogya.
Selesai shalat subuh, kami keluar lalu beli tiket Commuter Line ke Bogor seharga Rp5 000. Di dalam kereta Jakarta-Bogor kami tidur lagi. Setelah berganti angkot dua kali, kami tiba di rumah, dan pendakian ngebut kami pun selesai :)


Terima kasih buat Allah SWT yang mengizinkan kami berangkat, memberikan perlindungan kepada kami, dan memberikan pengalaman yang berbeda, serta pelajaran mengenai diri sendiri.
Terima kasih buat Bapak sama Mamah yang mengizinkan gue bawa kabur anak bontotnya ke Yogya terus dibawa mendaki ke Merbabu.
Terima kasih buat travel mate gue kali ini, sekaligus adik gue yang paling apabanget sedunia, Poci. Maaf gue sering marah-marah, abis lu bergantung sama gue mulu sih haha. Semoga hadiah masuk Smanli dari gue ini menyenangkan hahaha, semoga banyak pengalaman dan pelajaran yang bisa lu ambil dari perjalanan kita kemarin ya. Maciw Pociw!
Terima kasih banyaaaaaaak sekali juga buat Farhan yang sudah menjemput, memandu, dan mengantar kami ke mana-mana, padahal pas jemput kami di Lempuyangan belom tidur malemnya haha. Terima kasih banyaaaaak juga buat Tebe yang sudah mengantarkan dan memandu kami selama pendakian, dan memboncengi gue ke dan dari Selo. Terima kasih untuk shalat tarawih nya, untuk sahurnya, untuk cerita-ceritanya. Terima kasih banyak bangetbangetbanget buat kalian berdua!
Terima kasih juga buat para anggota Satu Bumi yang menerima kami di sekretnya, meminjamkan barang-barangnya, meminjamkan motor-motornya. Sukses selalu kalian :D
@nunnurul. Powered by Blogger.